Ahmad Wahib test

Ide-ide Sosialnya

Wahib memperjuangkan nilai-nilai sosial yang progresif yang mengungkapkan dasar-dasar kebebasan dan keadilan dan tanggungjawab jama‘i dalam perjuangan. Teori sosial yang digariskannya mencerminkan aspirasi perjuangan untuk mempertahan keadilan, kebebasan, kejujuran, perobahan, dan penggarapan masyarakat madani serta merangkul nilai kebenaran yang universalis yang diilhamkan daripada berbagai budaya dan tradisi.

Melihat pada kelas-kelas pada piramid sosial tersebut menunjukkan bahawa peranan agama dalam administratif monarki di Mesir sangat tinggi pengaruhnya dan di sinilah timbul persoalan, apakah peranan terpenting agama dalam pemerintahan Fir’aun?Nurcholis Madjid

Dalam merumuskan ide progresif Nurcholish Madjid tentang dasar sosial dan politik Islam beliau mengungkapkan: “Ide sosialisme dan demokrasi…harus diterima sebagai tema pokok perjuangan umat Islam serta sebagai rumusan konkrit daripada ajaran al-Qur’an. Pikiran ini dikemukakannya sebagai realisasi sikap mental terbuka terhadap puncak-puncak pemikiran manusia tentang masalah-masalah sosial, dari mana pun datangnya faham atau ide itu sebagaimana orang Islam telah terbuka sikapnya terhadap karya orang-orang Barat di bidang masalah-masalah kealaman – sains dan teknologi.”

Beliau turut mengingatkan tentang ancaman penindasan yang direncanakan oleh pemerintah bagi menyekat kemaraan rakyat dengan memanipulasi kaum intelek: “Apakah setelah lepas dari penindasan lama, kaum intelektual Indonesia tidak terjerat dalam bentuk-bentuk penindasan baru yang halus, dan apakah semuanya perlu meninggalkan profesinya sebagai professional rebels?  Sekarang kebanyakan intelektual telah menjadi teknokrat alias sekrup-sekrup dalam rida pemerintahan. Kaum intelektual pada gilirannya dipergunakan lagi oleh pemerintah untuk membela beleidnya atau sebagai solidarity maker. Ternyatalah, pemerintah memang berusaha memagar dirinya dengan argumentasi intelektual. Karena itu kaum intelektual perlu membina suatu moral movement yang radikal dinamis dan puritan di kalangan intelektual bebas (seniman, mahasiswa, dosen, para ahli yang mempunyai sasaran kontrol, pemerintah (sic), di samping kekuatan-kekuatan masyarakat sendiri, agar jangan sampai kekuasaan ABRI dan GOLKAR menjadi absolut.”

Pandangan dan falsafah sosialnya adalah berteraskan kepada idealisme kebebasan dan democratic attitude (sikap demokratis) yang strategis, yang memberikan ruang kebebasan dan menggalakkan percambahan fikiran. Menurutnya: “salah satu sikap seorang demokrat ialah tidak melakukan teror mental terhadap orang yang mau bersikap lain. Membiarkan orang lain menentukan sikap dengan perasaan bebas, tanpa ketakutan, sesuai dengan isi hatinya sendiri merupakan pencerminan sikap seorang demokrat…target kaum demokrat bukanlah supaya dia menentukan sikap seperti kita punya sikap melainkan supaya dia menginsafi dengan sadar akan kelemahan sikapnya. Kaum demokrat tidak suka bila orang lain itu sependapat atau sesikap dengan dia karena terpaksa, karena ngeri akan serangan-serangan keras ataupun segala macam teror mental.”

Salah satu pemangkin kepada pemberdayaan massa, seperti yang diungkapkan oleh Wahib, adalah kerangka metodologi yang mantap. Kemajuan di barat, dengan pencapaian sains dan teknologi dan ketangkasan ide dan peradabannya, banyak dipengaruhi oleh acuan metodnya yang ideal, berbanding dengan situasi umat di rantau ini yang masih terbelenggu dengan wacana bobrok dan pertentangan fikiran antara kaum muda dan tua.

Menurutnya: “bidang metodologi sangat maju di dunia barat, dengan alat mana mereka bisa merobek-robek satu demi satu tabir yang menyelubungi rahsia-rahsia alam, masyarakat dan kemanusiaan ini. Di dunia barat metodologi dikembangkan dan dipakai tidak hanya untuk memperoleh kebenaran-kebenaran baru, tapi juga untuk menyebarkan kebenaran-kebenaran yang sudah ada. Mencari kebenaran tertentu dalam rangka menyebarkan kebenaran lain yang sudah ada. Inilah yang disebut metodologi dalam mengajar. Dengan tekun mereka mengadakan riset di bidang metodologi, termasuk dalam metodologi mengajar ini bagaimana mengajarkan sesuatu ilmu atau cara seefisien mungkin. Di Indonesia kita belajar bahasa Perancis bertahun-tahun baru boleh dibilang menguasai. Di Amerika Serikat berkat pemakaian metode-metode yang efisien, pengajaran bahasa Perancis dengan hasil yang sama bisa dilakukan dengan waktu jauh lebih pendek.”

Masalah-Masalah Keagamaan

Melihat pada kelas-kelas pada piramid sosial tersebut menunjukkan bahawa peranan agama dalam administratif monarki di Mesir sangat tinggi pengaruhnya dan di sinilah timbul persoalan, apakah peranan terpenting agama dalam pemerintahan Fir’aun?“satu-satunya hakim dalam Islam bagi kehidupan seorang Muslim adalah hati nuraninya.”

Pemikiran agama yang ditanganinya banyak terfokus pada soal-soal teologis, yang menggariskan 9 tema pokok, yang mengupas tentang 1. karya Tuhan di dunia dalam tinjauan teologis,  mencakup masalah-masalah: Tuhan, manusia dan alam, sunnatullah, ayatollah dan wahyu Allah; wahyu sebagai masalah teologi; konsep Islam tentang perkembangan sejarah; masalah transendensi Tuhan dan pernyataan tindakanNya dalam kehidupan nyata; manusia sebagai khalifah dan sekularisasi sebagai problem teologi; 2. Konsep manusia dalam Islam, mencakup masalah-masalah: Islam, misteri takdir; tugas dari wewenang manusia; 3. Kedudukan Qur’an dan Sunnah dalam memahami Islam; 4. Evolusi alam dan manusia; 5. Atheisme; mencakup masalah-masalah: yang Ilahi dan yang eksistensial; kemungkinan dialog dengan atheisme; 6. Perkembangan teologi di kalangan Kristen 7. Sikap teologis pada agama-agama non-Islam; 8. Iman pada yang ghaib, mencakup masalah-masalah: apa yang dimaksud dengan ghaib; malaikat, jin dan setan; Adam, Hawa, syurga dan neraka; akhirat; 9. Masalah jamaah dalam sifat individual Islam, mencakup masalah-masalah: solidaritas Islam; agama politis dan agama rohani.

Kemusykilan dasar yang sering diangkatnya adalah kemunafikan, yang dijelmakan dalam amalan kaum elitis agama yang memperlihatkan pertentangan antara nilai teori dan praktis, seperti ditegaskannya: “golongan agama kurang mampu menterjemahkan ide-idenya dalam bahasa-bahasa sekular plus hipokrasi dari beberapa eksponen mereka sendiri…karena itu menjadi kewajiban golongan agama untuk introspeksi mengapa kini mereka sangat tidak berwibawa (kritik golongan agama kurang didengar).”

Kemelut-kemelut yang berbangkit dalam agama banyak ditanganinya dengan merujuk langsung kepada kitab dan sunnah, dengan mengenepikan peranan autoriti agama dalam lingkungannya, seperti dinyatakannya: “terus terang, aku kepingin sekali bertemu sendiri dengan Nabi Muhammad dan ingin mengajaknya untuk hidup di abad 20 ini dan memberikan jawaban-jawabannya. Aku sudah kurang percaya pada orang-orang yang disebut pewaris-pewarisnya.”

Hasrat ini diperkukuh dengan hujahnya bahawa satu-satunya hakim dalam Islam adalah hati nurani: “satu-satunya hakim dalam Islam bagi kehidupan seorang Muslim adalah hati nuraninya, bukan fatwa ulama’, bukan isi buku-buku agama, ketentuan-ketentuan dari kawan dan lain-lain. Semua yang terakhir itu sekedar merupakan bahan-bahan pertimbangan yang benar-benar memang harus dipertimbangkan. Islam adalah hati nurani setelah dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan pendapat-pendapat, kepentingan-kepentingan, cita-cita orang lain dan kelompok sosial sekelilingnya.”

Melihat pada kelas-kelas pada piramid sosial tersebut menunjukkan bahawa peranan agama dalam administratif monarki di Mesir sangat tinggi pengaruhnya dan di sinilah timbul persoalan, apakah peranan terpenting agama dalam pemerintahan Fir’aun?Teman-teman Ahmad Wahib sering menyebutkan Yogya adalah kota para idealisIdealisme Perjuangannya

Wahib mengusung gagasan perjuangan yang besar, untuk memperjuangkan kebebasan ide dan pemikiran dan membangkitkan kesedaran dan semangat ijtihad. Tekadnya adalah membumikan  penghayatan agama mengikut kerangka yang digariskan hukum dan syari’at. Kekuatan idealismenya dipertahan dengan konsisten, meski digoncang dengan cabaran yang datang bertubi-tubi, seperti dilukiskannya ketika bergulat dengan kehidupan di Jakarta.

“Di Jakarta aku merasa asing. Aku tak memiliki kawan pribadi…betapa banyak kawan-kawan baikku sendiri enggan dan menjauh dariku setelah mereka tahu tidak ada lagi keuntungan bisa diperoleh dari orang yang tidak punya kekuatan apa-apa seperti aku. Jadi apakah kekuatan itu? Sebut saja: uang, pengaruh dan status sosial! Coba perhatikan betapa banyak idealis-idealis yang telah runtuh dan kini telah berkompromi. Apa yang dulu mereka serang, sekarang mereka sendiri mengerjakannya. Yogya sering disebut sebagian kawan-kawan sebagai kotanya para idealis. Sepanjang pengamatanku tidak ada idealis-idealis dari Yogya yang bisa bertahan dengan idealismenya di Jakarta, suatu kota yang ganas. Di Jakarta, mereka terpaksa tidak konsisten. Kini aku harus dengan yakin memegang nasibku di tanganku sendiri.”

Pembaharuan dan Ijtihad

Cita-cita pembaharuan yang digagaskan Wahib menekankan kepentingan ijtihad dan upaya menggarap maqasid syari’ah dan idealisme hukum. Dalam proses pembaharuan, Wahib mengemukakan gagasan pemikiran yang tuntas dan konsisten tentang keberanian berfikir dan berpolemik, kaedah melemparkan ide-ide baru, dasar kesarjanaan yang integral, pangkal pembaharuan pemikiran Islam, asas-asas rasionalisme, kejujuran intelektual, dan implikasi sosial dan politik dari perubahan pandangan terhadap agama, serta praktis revolusioner eksponen-eksponen pembaharu.

Beliau mengungkapkan prinsip kebebasan berfikir dan beri‘tikad dan penafian budaya taqlid yang bobrok. Keupayaan ini disandarkan kepada keyakinan melahirkan ide pembaharuan, dan memacu budaya yang mapan. Hal ini yang diungkapkan Wahib ketika melihat kenaifan hidup masyarakat yang tertindas dari sudut pencapaian ekonomi dan pembaharuan ide.

Melihat pada kelas-kelas pada piramid sosial tersebut menunjukkan bahawa peranan agama dalam administratif monarki di Mesir sangat tinggi pengaruhnya dan di sinilah timbul persoalan, apakah peranan terpenting agama dalam pemerintahan Fir’aun?Ahmad Wahib mengungkapkan prinsip kebebasan berfikir dan beri‘tikad dan penafian budaya taqlid yang bobrok

“Aku tidak mengerti keadaan di Indonesia ini, ada orang yang sudah sepuluh tahun jadi tukang becak. Tidak meningkat-ningkat. Seorang tukang cukur bercerita bahwa dia sudah 20 tahun bekerja sebagai tukang cukur. Penghasilannya hampir tetap saja. Bagaimana ini? Mengapa ada orang Indonesia yang sampai puluhan tahun menjadi pekerja-pekerja kasar yang itu-itu juga. Pengetahuan mereka juga tidak meningkat. Apa bedanya mencukur 3 tahun dengan mencukur 20 tahun? Apa bedanya menggenjot becak setahun dengan sepuluh tahun? Ide untuk maju walaupun dengan pelan-pelan masih sangat kurang di Indonesia ini. Baru-baru ini saya melihat gambar orang tua di majalah. Dia telah 35 tahun manjadi tukang potong dodol pada sebuah perusahaan dodol. Potong-potong…potong terus, tiap detik, jam, hari, bulan, tahun,…, sampai 35 tahun. Masya Allah!

Bagiku dalam bekerja itu harus terjamin dan diperjuangkan dua hal:

Penghasilan harus meningkat

Pengalaman dan pengetahuan harus terus bertambah.”

Kedudukan yang terkebelakang dan tertindas jauh daripada pembangunan ekonomi inilah yang mencetuskan daya juangnya untuk memperbaik dan memperbaharui kehidupan dan jati diri umat dan melontarkan gagasan-gagasan liberalnya tentang langkah pemacuan ekonomi yang strategis.

Perumusan

Dari perbincangan ringkas yang diketengahkan di atas, dapat disimpulkan bahawa falsafah pemikiran yang dilontarkan Ahmad Wahib adalah berdasar pada pertimbangan fikiran yang kritis dan rasional untuk menjawab permasalahan-permasalahan agama dari kerangka hukum yang luas dan dinamis. Pandangan dunianya adalah bersandar kepada tradisi akliah yang segar yang telah mewarnai zaman pertengahan Islam dan melahirkan tradisi pemikiran dan ijtihad yang turut mencetuskan pencerahan dan penemuan peradaban di barat. Wahib telah memetakan sesuatu untuk dilanjutkan, fikiran-fikirannya yang terekam dalam catatan hariannya merupakan khazanah pemikiran yang berharga untuk generasi muda. Idealisme pemikiran yang digagaskan Wahib harus dicanangkan sebagai fikrah Islami yang ideal ke arah pemugaran kesedaran dan ijtihad, seperti diungkapkan Wahib ketika menyingkap renungannya tentang falsafah dirinya.

“Aku bukan Wahib. Aku adalah me-wahib. Aku mencari, dan terus menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus menerus berproses menjadi aku.”