69 Tahun Merdeka

August 18, 2014 by Prof Ahmad Syafii Maarif


3828_2.ali-sastroamijoyoBahwa bangsa Indonesia ingin sekali memperoleh kemerdekaan puluhan tahun yang silam adalah sebuah keinginan yang teramat luhur, tak ada kekuatan mana pun di muka bumi yang dapat menghalanginya. Dipelopori oleh kaum nasionalis idealis sebagai para bapak bangsa, maka pada 17 Agustus 1945 Sukarno-Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, sekalipun Belanda, mantan penjajah, tidak mau mengakuinya. Penjajah ini memang tidak punya malu, padahal telah diusir Jepang dari bumi Indonesia pada bulan Maret 1942 tanpa perlawanan.

Suasana antusiasme batin rakyat saat itu sungguh luar biasa. Ali Sastroamidjojo misalnya menggambarkan suasana proklamasi itu dalam kutipan di bawah ini:

Reaksi kami sukar saya gambarkan di sini. Isteri saya yang tidak sering saya melihat menangis, waktu itu tiba-tiba duduk diam-diam seperti orang termenung dan air mata bertetesan dari matanya. Saya pun merasa sangat terharu. Bermacam-macam kenangan dari zaman yang lampau timbul di pikiran saya. Indonesia merdeka! Kata-kata yang melambangkan cita-cita bangsa kita dan yang sudah begitu lama kita perjuangkan dengan penuh penderitaan dan pengorbanan sudah menjadi kenyataan! Bangsa kita, negara kita sudah merdeka. Bermacam-macam emosi timbul di hati saya. Rasa gembira bercampur dengan rasa sedih. Gembira karena saya masih diperkenankan Tuhan untuk mengalami cita-cita bangsa kita tercapai, dan sedih karena ingat pada kawan-kawan seperjuangan yang tidak ada lagi di antara kita dan tidak bisa menikmati hasil dari perjuangan dan pengorbanan mereka. (Lih. Ali Sastroamidjojo, Tonggak-Tonggak di Perjalananku. Jakarta: P.T. Kinta 1974, hlm. 140).

Ali adalah di antara bapak bangsa yang turut berjuang untuk kemerdekaan melalui PI (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda awal 1920-an.

3828_3.HOS-cokroaminotoTestimoni Ali di atas adalah autentik, karena dia faham betul bagaimana sulitnya dulu merperjuangkan kemerdekaan itu, karena Belanda masih mu bertahan di negeri kaya ini untuk waktu yang tak terbatas. Di antara pejuang yang tidak sempat menghidup udara kemerdekaan itu adalah H.O.S. Tjokroaminoto, bapak seluruh kaum nasionalis, karena sudah wafat pada tahun 1934. Tetapi ruh anti penjajahannya diteruskan oleh semua anak didiknya, termasuk Sukarno. Tokoh lain yang juga tidak sempat mengalami detik proklamasi kemerdekaan itu adalah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang wafat tahun 1943. Dan masih banyak yang lain yang telah memberikan jiwa dan raganya untuk merebut sebuah kemerdekaan yang teramat mahal itu.

Ketika pernyataan kemerdekaan itu disampaikan, penduduk Indonesia baru sekitar 70 juta, sedang sekarang sudah berada pada angka 250 juta, sebuah ledakan demografis yang cukup dahsyat dan mengerikan. Tingkat buta huruf pun sekarang yang masih tersisa sekitar lima persen, dibandingkan 90% tahun 1945, berkat kemerdekaan. Tuan dan puan janganlah bermimpi bahwa rezim penjajahan punya niat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, karena bangsa yang cerdas pasti akan melawan tuannya. Faktanya, jangankan seluruh anak bangsa menjadi cerdas, dengan segelintir pemimpin cerdas saja, Belanda telah kewalahan. Sungguh tepat bunyi alinea pertama Pembukaan UUD 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Kalimat ini adalah saripati pengalaman hidup manusia terjajah, kemudian diabadikan dalam Pembukaan UUD.

3828_4.UUDItulah sekadar kilas balik saat kita merayakan 69 tahun usia kemerdekaan. Banyak yang sudah dicapai, tetapi lebih banyak lagi yang belum diwujudkan bagi tegaknya keadilan dan terciptanya kesejahteraan merata untuk seluruh rakyat. Angka kemiskinan masih sangat tinggi, di tengah-tengah kemakmuran melimpah bagi segolongan kecil. Pertumbuhan ekonomi sama sekali tidak berbanding lurus dengan proses pemerataan. Inilah di antara masalah besar yang harus dijawab oleh pemerintah yang akan datang. Rakyat pun harus mau bekerja keras dengan disiplin yang tinggi. Tetapi, di atas itu semua, kita wajib bersyukur kepada Allah karena atas pertolonganNya kemerdekaan Indonesia telah berusia 69 tahun. Semoga hari depan bangsa ini akan jauh lebih adil dan lebih baik menjelang usianya mencapai satu abad. Membiarkan kemiskinan terus berlanjut adalah pengkhianatan telanjang terhadap seluruh cita-cita luhur kemerdekaan.


Prof Ahmad Syafii Maarif adalah seorang ulama, ilmuwan dan tokoh pendidik Indonesia. Beliau juga merupakan mantan Ketua Umum Muhammadiyah dan Presiden World Conference on Religion for Peace. Catatan ini sempena Hari Ulangtahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Augustus 2014.