Ideologi Muhammadiyah: Perspektif Kritis

March 1, 2014 by Hasnan Bachtiar


Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering

[Karl Marx  dalam “Contribution to the Critique of Hegels Philosophy of Right”]

Seorang filsuf Jerman kenamaan, Karl Marx, menyampaikan bahwa, “Penderitaan agama, dalam suatu waktu tertentu, merupakan ekspresi dan perlawanan terhadap penderitaan yang sesungguhnya.” Iman yang benar, seringkali disampaikan secara mengesankan, dalam rangka memprotes kegetiran kemanusiaan.

Berbanding lurus dengan hal ini, Marx mengajukan kritik, “Die Religion … ist das Opium des Volkes!” (Agama adalah candu bagi rakyat). Dengan segala kekecewaan yang mendalam terhadap “institusi” keagamaan, penulis buku “Das Kapital: Kritik der politischen Ökonomie” (1867) ini memilih untuk tidak beragama sampai akhir hayatnya. Ia menganggap, tidak ada gunanya beragama bila tidak memberikan kontribusi apa pun bagi kemerosotan martabat kemanusiaan. Idenya, sesungguhnya dapat kita maklumi.

ahmad dahlanFenomena Marx ini memberikan pelajaran bahwa, bukan berarti tidak ada institusi agama yang menuntun kepada iman dan keberpihakan terhadap kemanusiaan sekaligus. Di balik kekecewaan seorang atheis ini, secara psikoanalisis, masih terbersit pengharapan terhadap perjuangan agama. 45 tahun kemudian, di ruang dan waktu yang berbeda, lahirlah Persyarikatan Muhammadiyah.

Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 18 November 1918. Misi utamanya adalah menghimpun anggota untuk menjadi para pengikut Nabi Muhammad, yang siap berjuang untuk tegaknya agama dan kemanusiaan (Alfian, 1989). Sebagai institusi keagamaan, Muhammadiyah memiliki fungsi strategis mengupayakan perjuangan pemihakan kemanusiaan.

Konteks sosial saat itu, memang diwarnai dengan kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Di bawah kolonialisme dan imperialisme Belanda, rakyat kecil mustahil mendapatkan martabatnya. Hari demi hari menjalani hidup, tanpa kepastian keadilan dan kesejahteraan. Harta, benda, jiwa, raga dan martabat tercerabut demi kepentingan para penjajah.

Kompleksitas penderitaan rakyat semakin tinggi, ketika kultur yang ada saat itu adalah feodalisme. Pemimpin setempat bukan membela rakyatnya, tetapi malah memeras dan merampas hak-hak rakyat, atas nama moral kerajaan. Di samping itu, kehidupan keagamaan yang ada, sangat syarat dengan mistik dan fatalisme yang merusak mental. Manifestasi Islam, dipenuhi dengan praktik ritual gaib yang tidak masuk akal. Pendek kata, dekadensi kemanusiaan terjadi secara merata, khususnya bagi kaum melarat.

Abduh, RedaTentu saja hal ini menguras pikiran Dahlan. Sebagai ahli agama yang mengikuti ide-ide kritis intelektual Mesir seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, ia kemudian berijtihad. Baginya, tidak ada jalan lain kecuali melakukan perlawanan. Terinspirasi dari pesan-pesan kemanusiaan dalam Surat al-Ma’un, ia mulai melakukan propaganda ideologis kepada umat. “Kita hanyalah pendusta agama, bila belum memberikan kontribusi dan kemanfaatan di hadapan kemanusiaan.”

Lahirlah doktrin pemurnian Islam. Kredo al-rujû’ ila al-Qur’ân wa al-Sunnah adalah raungan yang menggedor pintu-pintu dogma keagamaan yang mapan. Pelbagai upacara keagamaan yang bercampur aduk dengan feodalisme, sedikit demi sedikit mulai dipangkas habis. Pemberantasan tahayul, bid’ah dan khurafat dalam praktik keagamaan, menjadi proyek khusus yang dikerjakan dengan penuh gairah. Teranglah di sini bukan sekedar agama yang dibela Dahlan, tetapi akar masalah penyebab tumbuh suburnya kehidupan yang dehumanistik.

Ide fundamental kembali ke al-Qur’an dan Sunnah, bukanlah tujuan akhir. Namun, strategi pembebasan yang paling jenius, yang pernah ada di dalam sejarah umat manusia. Dengan menghapus seluruh jebakan mistik dan kepasrahan total, api kebangkitan umat dinyalakan kembali menuju pemikiran keagamaan yang lebih rasional, masuk akal, berkarakter dan bermental pejuang. Sejarawan Kuntowijoyo berpendapat, agama yang saat itu dimonopoli oleh pihak Keraton sehingga bermuka adiluhung, kini telah menjelma sebagai agama yang lebih membumi dan kamanungsan (Kuntowijoyo, 2000).

Secara akademis, komentar para sarjana yang menyatakan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan puritan, bisa dibenarkan. Tetapi, Muhammadiyah bukan puritan an sich. Pada organisasi ini, masih ada tujuan pemerdekaan sosial, sebagai poin utama yang harus diperhatikan. Bukti yang mendasar mengenai liberasi sosial yang dilakukan oleh Muhammadiyah, berwujud perlawanan frontal terhadap segala jenis penjajahan. Bukan sekedar perang melawan Belanda, namun lagi-lagi memilih jalan yang begitu cerdas.

Muhammadiyah, mendirikan lembaga-lembaga sosial kemanusiaan, yang siap melayani kepentingan umat. Panti asuhan, Penolong Kesengsaraan Oemat (PKO), klinik kesehatan, sekolah Islam yang modern dan seterusnya, adalah sederet lembaga filantropis yang diupayakan untuk kebangkitan kemanusiaan. Hingga seabad lamanya, lembaga-lembaga ini terus berkembang pesat, bahkan telah berdiri banyak sekali rumah sakit dan perguruan tinggi. Kini, Muhammadiyah menjadi organisasi Islam, yang disegani di dunia internasional.

Karl MarxBangsa ini telah merdeka. Penjajah Belanda dan feodalisme telah pergi, lari tunggang langgang entah ke mana. Tahun 1918 berubah angka menjadi 2013. Sayangnya, rakyat melarat semakin sekarat, keadilan sosial dan kesejahteraan tak kunjung didapat. Dengan kata lain, pekerjaan Muhammadiyah – barangkali selaras dengan harapan Marx – belum selesai.

Ideologi Muhammadiyah yang berkhidmat pada pembebasan sosial, harus tetap dikobarkan. Musuh utama kali ini, di samping kemiskinan adalah korupsi, hilangnya karakter bangsa dan kebodohan massal. Kompleksitas lainnya yang turut memperparah kondisi kemanusiaan adalah penjajahan politik, ekonomi dan kebudayaan oleh kekuasaan yang berdiri di luar garis kedaulatan. Neo-liberalisme, neo-kapitalisme dan neo-imperialisme adalah wajah-wajah murka dari tahayul, bid’ah dan khurafat masa kini yang harus dibereskan. Belum lagi merebaknya konservatisme, radikalisme dan terorisme keagamaan, telah menjelma duri-duri dalam daging yang menjengkelkan.

Dalam ideologi kritis Muhammadiyah, sebenarnya sudah dilengkapi dengan nilai-nilai etis Islam, yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits Nabi. Baik itu berupa akhlaq al-karimah, zuhûd, ihsân dan seterusnya, yang bisa menjadi rambu-rambu aktif dalam menunjukkan perilaku manusia bangsa yang beradab. Tidak berhenti pada nilai, pelbagai konseptual tersebut harus lebih aplikatif dan hadir dalam kenyataan perlawanan yang paling riil.

Untuk melawan segala musuh kontemporer yang dehumanistik, Muhammadiyah juga dituntut untuk bersungguh-sungguh mempertimbangkan, mengadopsi dan menjalankan segala gagasan mutakhir kekinian, yang juga selaras dengan perjuangan liberasi sosial. Hak asasi manusia, kesetaraan gender, keadilan sosial dan demokrasi adalah beberapa konsep, yang sangat masuk akal dapat diterima menurut perspektif Islam.

Bila saat ini Muhammadiyah sebagai institusi, warga Muhammadiyah, kader Muhammadiyah dan simpatisan Muhammadiyah belum secara total mempertimbangkan perjuangan kemanusiaan, berarti masih jauh dari harapan untuk layak disebut sebagai “Pengikut Muhammad”. Merujuk kepada sejarah Islam, bukankah Muhammad dikenal sebagai Nabi, Rasul dan Pembebas sekaligus? Di samping dianggap sebagai hamba “yang terpilih”, Muhammad adalah pemrakarsa pembebasan sosial di zaman masyarakat Arab yang tribal. Apa yang diusahakannya bukan sekedar penemuan teologi yang skolastik, tetapi juga teologi pembebasan.

Demikianlah uraian mengenai ideologi Muhammadiyah secara lebih kritis. Semoga dengan pembacaan intelektual yang lebih tajam, para pembaca mampu menghimpun kesadaran bahwa, pembebasan sosial adalah ideologi Muhammadiyah yang paling utama. Akhirul kalam, suatu institusi keagamaan, ketika berkomitmen untuk membela segala kepentingan Tuhan, sejatinya harus mengedepankan segala perjuangan kemanusiaan dan liberasi sosial.

 


Hasnan Bachtiar adalah Peneliti Filsafat di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang