Kata Pengantar Risalah al-Qur’an: Muhammad Asad, Risalah Al-Qur’an, Dan Dunia Melayu

December 24, 2014 by Prof Ahmad Syafii Maarif


1.Para 1Tajuk tulisan ini ingin menjelaskan keterkaitan antara Muhammad Asad (2 Juli 1900-23 Februari 1992), Risalah al-Qur’an (The Message of the Qur’an), magnum opus Asad, dan Dunia Melayu sebagai pembaca utama dari terjemahan karya agung ini. Melalui terjemahan ini diharapkan gagasan-gagasan besar Asad tentang al-Qur’an, Islam, dan perlunya regenerasi dengan pemahaman baru yang lebih segar yang mencerahkan tentang warisan sejarah umat yang kompleks yang sudah berusia berabad-abad, dapat difahami secara luas dan jernih di rantau ini.

Bukan saja sekadar memahami, tetapi dapat dijadikan sebagai sumber ilham untuk bangkit serentak dengan kepercayaan diri yang tinggi. The Message of the Qur’an terbit pertama kali tahun 1980, dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Risalah al-Qur’an adalah terjemahan dalam Bahasa Melayu dari karya Asad sebagai seorang mufassir kenamaan. Sebenarnya pada tahun 1964 Asad telah menterjemahkan surat al-Baqarah sampai dengan surat al-Taubah, tetapi terjemahan dan tafsir lengkap baru terbit pada tahun 1980 di atas.

 

Muhammad Asad dan pengembaraan ruhaninya yang penuh warna

Untuk mengenal Muhammad Asad lebih dalam, perlu dirangkai dan ditelusuri sebuah sketsa perjalanan hidupnya yang penuh warna, sekalipun tidak lengkap. Lahir sebagai cucu ulama Yahudi dalam rantai silsilah yang panjang di kota Lemberg, Galicia, yang pada waktu itu menjadi bagian dari Imperium Austro-Hungaria (kini dikenal sebagai kota Lviv, Ukraina), Muhammad Asad yang semula bernama Leopold Weiss, telah melalui pengembaraan ruhani dramatis yang sangat mengesankan. Dalam posisinya sebagai koresponden surat kabar Jerman Frankfurter Zeitung di Yerusalem, Asad pernah berdebat keras dengan Dr Chaim Weizmann, tokoh Zionisme internasional. Asad ketika itu masih belum memeluk Islam, tetapi kecurigaannya terhadap Zionisme sudah mendalam. Memang cukup banyak orang Yahudi lainnya yang anti Zionisme, seperti Richard A. Falk, Noam Chomsky, Uri Avnery, John J. Mearsheimer, dan terlebih lagi Gilad Atzmon.[1]

Di mata Asad, gerakan Zionis adalah immoral karena bertujuan merampas tanah Palestina dengan mengusir penduduk aslinya. Inilah isi perdebatan itu: “Bagaimana tentang orang Arab”, Asad bertanya kepada Weizman suatu hari di saat tokoh Zionis itu menjelaskan visinya tentang Perumahan Nasional Yahudi. “Bagaimana tentang orang Arab?” gerutu Dr. Weizmann. Asad kemudian meneruskan pertanyaannya: “Baiklah, bagaimana anda pernah berharap untuk menjadikan Palestina sebagai tanah airmu di tengah perlawanan yang keras dari orang Arab, bagamana pun juga, merupakan majoriti di negeri ini?” Sambil mengangkat bahunya, tokoh Zionis itu menjawab: “Kami berharap dalam beberapa tahun mereka tidak lagi kelompok majoriti.”[2] Jawaban ini sangat menyakitkan perasaan Asad. Sudah terbayang di matanya tentang pengusiran rakyat Palestina secara besar-besaran, demi mengubah secara radikal komposisi penduduk agar orang Yahudi menjadi dominan di tanah rampasan itu.

Sampai akhir hayatnya, sikap Asad tetap saja tidak berubah sebagai seorang yang keras anti Zionisme. Karena terlibat dalam proses pembentukan Pakistan sebagai pecahan dari India, di saat berdirinya Israel bulan Mei 1948, Asad tampaknya tidak sempat bersuara lantang untuk menentang kelahiran negara Zionis itu. Barulah kemudian pasca Perang Juni 1967, Asad bersuara lagi tentang masalah sengketa Israel-Arab ini. Kita kutip:

Kami tidak mungkin pernah berdamai dengan pendapat, yang begitu memuaskan pihak Barat, bahwa Yerusalem dijadikan ibu kota Israel. Dalam alur fikiran tentang sebuah Palestina merdeka – sebuah negara yang di dalamnya umat Yahudi, umat Kristen, dan umat Islam dapat hidup berdampingan dalam persamaan politik dan kultural secara penuh – komunitas Muslim khususnya harus dipercayai sebagai penjaga Yerusalem sebagai kota terbuka bagi ketiga komunitas.[3]

Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, Israel ternyata terus saja berpegang kepada mimpi Weizmann bahwa orang Palestina, penduduk asli, harus disapu bersih dari tanah airnya sendiri. Ini adalah malapetaka kemanusiaan terbesar sejak sekitar 56 tahun yang silam. Dunia beradab (atau biadab) belum berani berbuat banyak untuk membela kemerdekaan Palestina ini. Amerika Serikat sebagai “bapak angkat” Israel selalu membela negara Zionis ini sekalipun mendapat kritik keras dari berbagai negara di dunia.

Muhammad Asad meninggalkan agama nenek moyangnya dan menyatakan sebagai pemeluk Islam di sebuah masjid di Berlin pada 1926 setelah beberapa tahun mengembara di dunia Arab, termasuk di lingkungan masyarakat Badwi. Pergaulan dengan orang Arab ini meninggalkan kesan yang dalam pada diri Asad tentang “bagaimana Islam memberikan kepada kehidupan harian mereka makna yang hakiki, kepuasan spiritual, dan kedamaian, sekalipun pengetahuannya tentang Islam masih sedikit saat itu…”[4] Dalam kehidupan Muslim terlihat olehnya “satu simbiosis yang saling bertalian antara minda dan tubuh, sebuah sifat yang demikian kurang pada orang Eropa yang telah dikenalnya.”[5]

Screen Shot 2014-12-23 at 12.28.26 PMPemandangan yang kontras diamatinya ketika suatu hari naik keretapi bawah tanah di Berlin bersama isteri Jermannya Elsa Schiemann (wafat tahun 1927 di Makkah) di mana para penompang yang cukup makan dengan pakaian yang bagus-bagus, tetapi di wajahnya tersirat rasa ketidakbahagiaan. Mengapa demikian, sekalipun mereka hidup dalam suasana kemajuan material yang melimpah? Jawaban datang setelah Asad kembali ke rumah petak tempat tinggalnya. Dia melirik sekilas pada al-Qur’an surat al-Takâthur (102) yang sedang dibacanya,[6] yang terjemahannya dalam Bahasa Melayu dari Risalah al-Qur’an adalah sebagai berikut:

(1)Kamu dikuasai sifat loba untuk mendapat habuan yang lebih dan lebih lagi (2) sehingga kamu terhumban ke kuburmu (3) Jangan, kelak kamu akan mengetahui! (4) Dan sekali lagi: Jangan, kelak kamu akan mengetahui! (5) Jangan, jika kamu dapat mengetahui [nya] dengan pengetahuan yang [berasal] daripada keyakinan, (6) nescaya kamu, benar-benar akan, melihat api yang menjulang [dari neraka]! (7) Kemudian sesungguhnya, kamu benar-benar, pasti melihatnya dengan penglihatan yang yakin: (8) Dan pada hari itu kamu pasti akan ditanya tentang [apa yang kamu perbuat dengan] nikmat kehidupan![7]

Ayat-ayat dalam surat al-Takâthur ini merupakan jawaban yang dicari Asad untuk memahami peradaban Barat yang kering dan tandus dari dimensi spiritual di tengah limpahan materi yang bertumpuk, tetapi sunyi dari ketenangan dan kebahagiaan. Asad menulis:

Untuk sesaat saya membisu. Saya fikir bahwa kitab itu [al-Qur’an] bergetar di tanganku. Kemudian saya berikan kepada Elsa. ‘Baca ini. Bukankah itu sebuah jawaban terhadap apa yang kita saksikan di atas keretapi bawah tanah?’ Sebuah jawaban yang begitu memberi kata putus sehingga semua keraguan tiba-tiba lenyap sudah. Saya tahu sekarang, tanpa ragu, bahwa ia adalah sebuah kitab yang diwahyukan Allah yang terpegang di tangan saya. Karena sekalipun telah ditempatkan di depan manusia selama lebih daripada 13 abad yang silam, ia dengan gamblang telah memperkirakan sesuatu yang hanya telah menjadi kenyataan di abad kita yang ruwet, serba mesin, sarat dengan ilusi.[8]

Setelah memeluk Islam sebagai jangkar spiritual yang baru baginya, Asad menulis: “Islam tampak bagi saya ibarat sebuah karya arsitektur yang sempurna. Seluruh bagiannya tersusun secara harmonis untuk saling melengkapi dan mendukung satu sama lain; tak satu pun yang sia-sia dan tak satu pun yang kurang; dan hasilnya adalah sebuah struktur keseimbangan yang mutlak dan kedamaian yang kuat.”[9]

3.Para14Talal-AsadPengetahuan Asad tentang Islam, Bahasa Arab, sunnah Nabi, dan sejarah Islam, selama sekitar enam tahun tinggal di Makkah, Madinah, dan Kairo, semakin lengkap, luas, dan mendalam. Penguasa Arab Saudi memberi fasilitas kepadanya selama tinggal di sana. Pernah juga belajar pada Syekh Ahmad Musthafa al-Maraghi (1881-1945), mufassir Mesir dan pernah menjabat sebagai rektor Universitas al-Azhar. Tahun 1932, Asad mengawini seorang gadis Madinah dari suku Shammar: Munira Hussein al-Shammari (wafat 1978). Dari perkawinan inilah Asad dikurnai anak tunggal bernama Talal Asad yang lahir pada 1933. Profesor Talal kemudian dikenal sebagai pakar antropologi pada the Cuny Graduate Center dari the City University of New York. Tentang posisi ayahnya sebagai seorang pemikir, Talal pada April 2011 menulis untuk sebuah simposium di Riyadh:

My father was not a political but a religious thinker for whom the Qur’an and the Sunnah together formed what he called “the most perfect plan for human living.”[10]

Tetapi berbeda dengan ayahnya yang membela gagasan tentang sebuah negara Islam di era modern, Talal Asad dalam bentuk pertanyaan berkeberatan dengan gagasan itu:

“But here is my worrying question: If the state is essential for the morality of a community, is it possible for non-Muslims to live ethically within an Islamic state?[11]

Sebagai seorang pengembara, Asad juga berkelana di India dan negara-negara sekitarnya selama 15 tahun. Di negara inilah pada tahun 1934 ia bertemu dan berkenalan dengan Muhammad Iqbal (1877-1938), yang kemudian telah mengubah jalan hidupnya yang tak kurang dramatisnya. Iqbal membujuk Asad agar tidak terus berkelana, tetapi menetap di India “to help elucidate the intellectual premises of the future Islamic State.”[12] Untuk mewujudkan gagasan ini, Asad dengan penuh semangat telah bekerja keras dengan menggunakan seluruh kemampuan intelektualnya agar mimpi besar Iqbal menjadi kenyataan. Amat disayangkan, Iqbal terlalu cepat wafat, sembilan tahun sebelum Pakistan muncul sebagai negara baru pada bulan Mei 1947, sebagai pecahan dari negeri induk India. Bagaimana perjalanan Pakistan selanjutnya, tidak akan dibicarakan di sini. Tetapi satu hal yang pasti, Asad tampaknya tidak bahagia mengamati perkembangan politik di negeri yang ia turut menciptakannya bersama penggagas utamanya Iqbal.

Selama beberapa tahun setelah terbentuk negara Pakistan, Asad telah diberi posisi-posisi penting, seperti awal tahun 1952 sebagai wakil Pakistan di PBB. Tetapi di akhir tahun itu, Asad mengundurkan diri dari jabatannya itu untuk kemudian mengawini Pola Hamida (wafat 2007), seorang Muslimah Amerika keturunan Polandia, setelah lebih dulu menceraikan isteri Arabnya Munira. Pernikahannya dengan Pola tidak disetujui oleh kementerian luar negeri Pakistan. Tampaknya inilah salah satu alasan mengapa Asad mengundurkan diri. Dengan Pola inilah Asad hidup bersama di Tangier, Moroko, selama 19 tahun (1964-1983). Kemudian pindah lagi ke Mijas (Spanyol) sampai saat wafatnya pada 20 Feb. 1992 dan dimakamkan di pemakaman Muslim di Granada, Andalusia. Sekalipun kecewa dengan perkembangan politik di Pakistan, Asad tetap mencintai negara ini dan masih punya kontak dengan para elite negara itu, seperti misalnya di tahun 1983 diundang oleh Presiden Zia ul-Haq.[13] Inilah kunjungan Asad terakhir ke negara itu yang salah seorang arsiteknya adalah dirinya sendiri.

 

Pentingnya Risalah al-Qur’an bagi Dunia Melayu

Dari sisi mazhab fiqh sebagian besar Muslim di Dunia Melayu adalah pengikut Imam Syafii, sekalipun mereka belum tentu pernah membaca kitab asli imam mazhab itu. Dengan hadirnya karya Muhammad Asad, boleh jadi Dunia Melayu akan sedikit mengalami kegoncangan karena pandangannya yang modern dengan menempatkan nalar (‘aql/reason) pada posisi terhormat.

Tetapi jika kegoncangan ini benar-bernar berlaku, sepatutnya disyukuri karena akan memberi elan vital baru yang lebih segar dalam pemahaman dan penafsiran agama. Jika kita mau jujur, faham keIslaman yang konservatif di Dunia Melayu pada umumnya patut benar mendapatkan darah baru untuk sebuah kebangkitan intelektual dan spiritual yang kreatif, demi masa depan yang lebih baik dan adil di rantau ini. Pernyataan Asad berikut ini patut direnungkan:

“The cause of the intellectual and spiritual decadence of the entire Muslim world is not to be found in a supposedly overwhelming “worldliness” of the Muslim people but, on the contrary, in the insufficient worldliness on the part of their religious leadership: a failure which resulted in the gradual alienation of the Muslim faith from the Muslim reality.[14]

Peta buram Dunia Islam yang disoroti Asad ini sampai sekarang belum banyak mengalami perbaikan dan perubahan seperti yang diharapkan. Mentalitas kita masih terpasung dalam pemahaman agama sebagai tradisi nenek moyang. Peran nalar lemah sekali.

4.Para24Islamic Renaissance Front (IRF) yang merancang terjemahan The Message of the Qur’an ke dalam Bahasa Melayu dalam bentuk Risalah al-Qur’an ini telah lebih dulu diterjemahkan ke dalam Bahasa Turki, Swedia, dan Jerman. Dengan demikian, pesan pembaruan Asad telah menjalar ke kalangan rakyat yang lebih luas yang kurang memahami Bahasa Inggris. Inilah komentar Asad tentang al-Qur’an:

Antara ayat pertama dan terakhir terkembang lebarlah sebuah kitab yang, melebihi gejala lain mana pun yang kita kenal, telah mempengaruhi secara fundamental sejarah agama, sosial, dan politik dunia. Tidak ada kitab suci lain yang pernah memiliki dampak langsung serupa atas kehidupan orang yang pertama kali mendengarkan pesannya, dan, via mereka dan generasi yang mengikutinya, atas seluruh arus peradaban.[15]

Sebagai seorang yang telah memahami perkembangan peradaban Barat dan Timur dengan bacaan yang luas dan kritikal, komentar Asad di atas tentang al-Qur’an bukan datang secara tiba-tiba, tetapi melalui kajian panjang yang penuh perenungan. Sekalipun harus menanti selama hampir 35 tahun sejak The Message of the Qur’an kali pertama diterbitkan, berkat kerja keras IRF dengan penterjemahnya, akhirnya Risalah al-Qur’an telah hadir di tengah-tengah kita sebagai bukti bahwa Dunia Melayu tidak tinggal diam dalam mengikuti berbagai perubahan dan perkembangan penafsiran terhadap al-Qur’an. Di usia muda, Asad pernah mendengar suara seorang tua di Kurdistan sebagai berikut:

Jika air tergenang tanpa riak dalam kolam, ia akan pengap, berdebu, dan kumuh; hanyalah manakala mengalir air itu akan tetap jernih.”[16]

Asad ingin terus bergerak dan mengalir sebagai seorang pencari kebenaran dalam upaya pemahaman makna sejati al-Qur’an melalui kekuatan nalar yang jernih.

Menurut Asad, ada pertanyaan kunci yang hendak dijawab al-Qur’an: “Bagaimana seharusnya saya berprilaku agar meraih kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan dalam kehidupan yang akan datang?”[17] Asad menerjemahkan ungkapan ummatan wasathan yang terdapat pada ayat 143 surat al-Baqarah sebagai a community of the middle way (komunitas jalan tengah),[18] tidak ekstrem ke kiri atau ke kanan, tetapi berada pada posisi tengah dengan doktrin tauhid yang tegas dan tegak. Dunia Melayu semestinya terus bergerak tanpa henti menuju posisi jalan tengah ini dengan kepala tegak sebagai tanda kepercayaan diri yang tinggi sebagai umat beriman dan berilmu. Al-Qur’an, tulis Asad, adalah “untuk kaum yang berfikir.”[19]

 

Screen Shot 2014-12-23 at 12.30.45 PMPenutup

Di ujung prakata untuk The Message of the Qur’an, Asad menulis: “…saya sadar sepenuhnya bahwa terjemahan saya tidak dan memang sesungguhnya tidak mungkin ‘berlaku adil’ terhadap al-Qur’an dan lapisan di atas lapisan maknanya: karena: jika seluruh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalam Tuhanku, pasti lautan itu akan kering sebelum habis kalam Tuhanku.”[20] Dengan Risalah al-Qur’an, kita berharap bahwa Dunia Melayu akan bersedia berfikir ulang tentang pemahaman agama yang telah diwarisi selama sekian abad.

 


SyafiiMaarifProf Ahmad Syafii Maarif adalah seorang ulama, ilmuwan dan tokoh pendidik Indonesia. Beliau juga merupakan mantan Ketua Umum Muhammadiyah dan Presiden World Conference on Religion for Peace.

 

 

[1] Tentang Gilad Atzmon, lih. Ahmad Syafii Maarif, Gilad Atzmon: Catatan Kritikal tentang Palestina dan Masa Depan Zionisme. Bandung-Jakarta: Mizan- Maarif Institute, 2012, tebal 124 halaman.

[2] Lih. Muhammad Asad dalam http://islamicencyclopedia.org/public/index/topicDetail/id/698.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Lih. Muhammad Asad, Risalah al-Qur’an-The Message of the Qur’an, Juz 30, terj. Ahmad Nabil Amir. Kuala Lumpur: Islamic Renaissance Front Berhad, 2012, hlm. 97-98.

[8] Asad, op.cit.

[9] Ibid.

[10] Lih. Talal Asad, “Muhammad Asad Between Religion and Politics” dalam http:www.islaminteractive.info/content/Muhammad-asad-between-religion-and-politics.

[11] Ibid.

[12] Lih. M. Ikram Chaghatai, “Muhammad Asad-The First Citizen of Pakistan” dalam http://www.allamaiqbal.com/publications/journals/review/aproct09/9.htm, hlm. 1.

[13] Ibid.

[14] Lih. Asad dalam Wikiquote dikutip dari Muhammad Asad, Laws of Ours and Other Essays. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 1987, hlm. 133.

[15] Asad, The Message, hlm. I.

[16] Chaghatai, op.cit., hlm. 6.

[17] Asad, The Message, hlm. I.

[18] Ibid., hlm. 30.

[19] Lih. Risalah al-Qur’an, hlm. III.

[20] Asad, The Message, hlm. VIII dan Risalah al-Qur’an, hlm. XXIX. Ini merujuk kepada ayat 109 al-Qur’an surat 18 surat al-Kahfi.