Tri Sakti Bung Karno dan Pijakan Historis Kabinet Jokowi-JK

August 28, 2014 by Ahmad Syafii Maarif


Kabarnya sudah puluhan yang melamar agar dipertimbangkan menjadi anggota kabinet Jokowi-JK. Semuanya berjanji untuk membantu presiden terpilih. Tidak ada yang salah jika pelamarnya berjibun, tetapi seleksinya harus ekstra ketat. Saya yang tidak punya kaitan apa-apa dengan kekuasaan, beberapa orang juga telah mengantarkan bio-data pribadinya agar disampaikan ke alamatnya. Jawaban saya singkat:  “Saya bukan agen kabinet, tidak punya akses apa-apa untuk itu.” Tetapi begitulah besarnya nafsu manusia Indonesia untuk menjadi bagian dari kekuasaan, mungkin sebagian memang punya kompetensi dan niat baik, sedangkan sebagian yang lain hanya ingin merasakan betapa rasanya berkuasa itu. Tulisan ini akan membicarakan sesuatu yang lebih mendasar yang terabaikan selama ini.

1.Jokowi.Bung Karno Terhadap para pelamar yang sudah antri panjang ini, Jokowi-JK tentu sudah punya kriteria ketat yang sangat objektif dan rasional. Sebab kabinet ini diamanahkan untuk menjalankan gagasan besar Bung Karno berupa Tri Sakti yang disampaikan tahun 1960-an, justru di saat kekuasaan Bung Karno sedang dihadapkan kepada tantangan berat yang kemudian telah membawa kejatuhannya. Jangankan melaksanakan Tri Sakti, nilai-nilai luhur Pancasila pun sudah lama mengawang di langit tinggi. Tri Sakti dalam format: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam sosial kebudayaan, sebenarnya adalah cita-cita agung kemerdekaan Indonesia yang sudah puluhan tahun mengendap di otak para pejuang kemerdekaan yang sebagian telah wafat sebelum proklamasi tahun 1945. Bung Karno memang adalah perumus yang piawai tentang cita-cita kemerdekaan bangsa itu, dalam bentuk ungkapan singkat, tajam, padu, dan padat.

Karena sudah berjalan sekian puluh tahun sejak pencetusannya, gagasan Tri Sakti itu belum pernah menjadi realitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai pencetus gagasan, Bung Karno pun belum berhasil meninggalkan warisan yang kongkret tentang Tri Sakti ini. Tetapi sekali lagi, gagasan ini adalah sari pati dari seluruh ruh cita-cita perjuangan nasional agar Indonesia merdeka benar-benar berdaulat penuh dalam politik, mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam ekonomi, dan punya kepribadian yang kuat dalam kebudayaan. Pertanyaannya adalah: mampukah Jokowi-JK bergerak ke arah dunia yang serba ideal ini, di saat bangsa dan negara nyaris kehilangan segala-galanya: kedaulatan, prinsip berdikari, dan kepribadian yang kuat? Bangsa ini sudah lama jadi “mainan” kekuatan-kekuatan raksasa global, karena situasi domestik kita masih rapuh.

Jokowi-JK pasti sangat sadar tentang betapa lengahnya kita sebagai bangsa merdeka selama ini dalam mewujudkan gagasan Tri Sakti itu dalam format yang kongkret. Gempuran neoliberalsime telah mengacaukan fundamental ekonomi kita dan merusak kepribadian Indonesia. Semuanya itu dilakukan atas nama pembangungan bangsa yang tidak mengacu kepada konstitusi secara benar dan lurus. Agar tidak berlarut-larut berenang dalam kubangan neoliberalisme ini, maka para menteri yang akan diundang masuk kabinet haruslah yang mau mengerti secara benar tentang tujuan kemeredekaan Indonesia, di samping memiliki integritas moral, kepemimpinan, kompetensi, dan profesionalitas. Karya-karya Soekarno-Hatta dan para pejuang yang lain perlu dibaca ulang oleh calon para menteri ini, agar ruh keindonesiaan mereka tetap terjaga kuat,  tidak oleng oleh tarikan timur dan barat, sebagaimana yang telah kita alami berkali-kali dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Maka para calon menteri itu haruslah patriot dan nasionalis sejati sesuai dengan cita-cita Tri Sakti.

2.Soekarno_HattaBagi calon menteri yang belum pernah membaca Indonesia Menggugat-nya Bung Karno (1930) dan Indonesia Merdeka-nya Bung Hatta (1928), mohon dicari karya itu sebelum bertemu dengan Jokowi-JK. Dua karya yang hampir berusia satu abad ini masih amat patut ditelaah ulang, karena benang merah tujuan kemerdekaan bangsa terurai dengan semangat tinggi di dalamnya. Kelemahan sebagian besar elite kita selama ini adalah karena mereka tercabut dari akar tunggang sejarah bangsa. Akibatnya, mereka tidak punya rujukan historis yang kuat di saat diberi posisi kenegaraan. Saya ingin melihat bahwa para menteri dalam kabinet Jokowi-JK adalah para petarung yang tangguh untuk segera merealisasikan gagasan Tri Sakti, dibawa turun ke bumi Nusantara, sekalipun saya tahu tidak mudah, karena mental sebagian kita sudah terlanjur  tidak sehat. Tetapi itulah jalan satu-satunya agar bangsa ini tidak selalu saja terombang-ambing oleh kekuatan-kekuatan asing dan sahabat-sahabat domestiknya sebagai penikmat kemerdekaan. Dengan semangat Tri Sakti, pemerintah yang akan dibentuk segera akan mendapat kepercayaan luas dari rakyat, karena nasib mereka yang terlantar sekian lama akan diperhatikan secara sungguh-sungguh.


Prof Ahmad Syafii Maarif adalah seorang ulama, ilmuwan dan tokoh pendidik Indonesia. Beliau juga merupakan mantan Ketua Umum Muhammadiyah dan Presiden World Conference on Religion for Peace.