Catatan Ringkas Presentasi Mun‘im Sirry

October 8, 2017 by Abdul Munir Mulkhan

Diskusi Terbatas Pakar Islamic Studies Ahmad Syafii Ma’arif School of Political Thought and Humanity tanggal 21 September 2017 di Gedung Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, antara lain  dihadiri oleh Prof. Dr. Ahmad Syafii Ma’arif, Dr. Hamim Ilyas, dan beberapa ahli tafsir dari Majlis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Setelah membaca dan mendiskusikan transkrip presentasi Dr. Mun’im Sirri di Kuala Lumpur tgl 20 Agustus dalam Seminar tentang “Bagaimana Berinteraksi dengan Al-Qur’an” untuk topik “Memikirkan Kembali Wahyu al-Qur’an” diselenggarakan oleh IRF & G25 di Heritage Room, Royal Selangor Golf Club, Jalan Kelab Golf off Jalan Tun Razak, Kuala Lumpur, diperoleh kesimpulan di bawah ini.

  1. Pokok bahasan Dr. Mun’im bukanlah barang baru, tetapi memang amat sensitif bagi beberapa kelompok Islam, terutama ummat lapis bawah, namun merupakan kajian akademis yang perlu terus dilakukan. Presentasi Dr. Mun’im Sirri lebih merupakan paparan tentang beberapa pandangan orientaslis dan ilmuwan di negeri-negeri Barat, terutama yang memiliki cara pandang revisionis.
  2. Menghadapi kajian akademis kaum revisionis dan ilmuwan Barat demikian itu memerlukan sikap jernih dan hati terbuka.
  3. Beberapa pokok paparan Dr. Mun’im yang perlu dijernihkan adalah seperti di bawah ini:
    1. Mengenai keraguan beberapa orientalis dan ilmuwan Barat terhadap tempat turunnya wahyu di Mekkah dan Medinah, antara lain disebabkan karena sumber-sumber kitab klasik dari sarjana Muslim sendiri lebih banyak menyajikan uraian tentang peradaban jahiliyah yang melukiskan peradaban Mekkah dan Madinah sebagai peradaban yang tidak cocok dengan auiden Al-Qur’an. Hal ini membuat beberapa orientalis dan ilmuwan Barat meragukan penurunan wahyu di dua kota tersebut, dan mengajukan tesis baru penurunan wahyu di kawasan Mesopotamia (Irak sekarang). Keadaan demikian seharusnya mendorong intelektual Muslim kontemporer menyajikan data baru mengenai peradaban Arab (Mekkah dan Madinah) yang lebih sesuai dengan peradaban yang dilukiskan Al-Qur’an.
    2. Mengenai Mushaf Al-Qur’an yang ada sekarang berbeda dengan mushaf di awal kanonisasi, adalah merupakan informasi yang mudah diperoleh dalam kajian Al-Qur’an di antara sarjana-sarjana Muslim sendiri.
    3. Perbedaan di antara sarjana Muslim tentang tafsir Al-Qur’an selalu muncul dalam sejarah Islam.
    4. Al-Qur’an perlu selalu ditafsir ulang untuk menjawab problem kehidupan umat manusia sepanjang sejarah peradaban kontemporer.
  4. Guna menghindari kesalahpahaman tentang isi pokok presentasi Dr. Mun’im Sirri di Kuala Lumpur tersebut di atas maka akan diselenggarakan seminar tentang Al-Qur’an menurut pandangan Dr. Mun’im Sirri dengan pembanding dari para ahli tafsir Al-Qur’an oleh dengan mengundang IRF oleh Ahmad Syafii Ma’arif School of Political Thought and Humanity Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Professor Dr. Abdul Munir Mulkhan adalah Guru Besar di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga dan Pengamat Sosial Keagamaan dan terkenal sebagai intelektual Muslim yang memiliki gagasan dan pemikiran keagamaan yang progresif, moderat dan inklusif. Beliau telah menyelesaikan penelitian pasca-doktoral di McGill University di Montreal, Kanada, dan menjabat sebagai Visiting Research Fellow di Nanyang Technological University’s Institute of Defence and Strategic Studies di Singapura. Beliau juga anggota Pesuruhjaya Hak Asasi Manusia Indonesia (Komnas HAM) periode 2007-2012. Beliau aktif dalam Muhammadiyah sejak 1960. Beliau pernah menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah Cabang Kalirejo, Lampung Tengah, Wakil Sekjen PP Muhammadiyah (2000-2005), dan anggota Majelis Dikti (Pendidikan Tinggi) PP Muhammadiyah (2005-2010). Beliau juga pernah menjabat sebagai Wakil Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakata (1985-199).

 




View original article at: http://irfront.net/post/articles/articles-malay/catatan-ringkas-presentasi-munim-sirry/