Pemikiran Tafsir A. Hassan Bandung

January 9, 2017 by Ahmad Nabil Amir


1.Para1

“Bila Tuan mendengar Islam direndahkan orang di depan Tuan, maka saat itu juga dengan cepat Tuan harus berfikir; Tuan orang Islam atau bukan?”
[A. Hassan, guru para legenda Masyumi]

Kertas ini mengupas manhaj pemikiran A. Hassan Bandung (1887-1958) dan pandangan-pandangan tafsirnya tentang hukum dan fiqh Islam yang mengangkat banyak persoalan penting dalam masyarakat. Hal ini disorot daripada karya-karya tafsirnya, seperti Tafsir al-Furqan, Tafsir al-Hidayah, Tafsir Surah Yasin, al-Djawahir dan dari penulisannya yang lain yang dikeluarkan seperti majalah Himayat al-Islam, Pembela Islam dan lain-lain. Fikrah tafsir yang dijabarkan memperlihatkan corak pemahaman yang moden dalam tafsiran teks. Ini dizahirkan dari kupasannya yang meraikan pandangan fiqh mu‘āsir (kontemporer) tentang aspek-aspek hukum, kalam, akidah, akhlak, tasawuf dan syariat yang meluas. Pada asasnya penafsirannya ini dikemukakan dalam konteks soal jawab agama dan fatwa-fatwa hukum yang ditanganinya dalam masyarakat. Ia menzahirkan kekuatan hujah dan ijtihad dalam mentarjih dan merumuskan dalil mazhab dengan menggarap kefahaman dan pandangan tafsir yang muktabar.

 

Mukadimah

Dalam perbincangannya yang ekstensif tentang perkembangan literatur al-Qur’an di Indonesia dan ittijahat tafsirnya Popular Indonesian Literature of the Qur’an (rujukan bertabur pada muka surat 36, 39-40, 47, 53, 83, 103-4, 111, 129-30, 132, 263, 267) Howard M. Federspiel mencatatkan tentang karya tafsir A Hassan (yang dikategorikan di kalangan karya generasi kedua bersama dengan Qomaruddin Hamidy dan Mahmud Yunus [1899-1973]) yang telah melakarkan sumbangan penting dalam tradisi dan perkembangan sejarah tafsir moden di Indonesia di mana, “Ketiga karya tersebut di atas telah menunjukkan daya tahannya yang luar biasa; ketiganya masih tetap digunakan sampai tiga puluh tahun dari peluncuran pertamanya. Popularitas masing-masing terlihat dari pencetakannya yang berulang-ulang.” (Federspiel, 1996: 130) (di mana tafsir A Hassan telah dicetak sampai tujuh kali).

Menurutnya, tafsir A. Hassan dilatari oleh semangat pembaharuan dan dasar ijtihad yang kritis yang diperjuangkan Hassan, yang berfaham puritan dan Islamisis yang radikal dengan upaya islah yang kental dalam tafsirnya, sebagaimana dibayangkan dalam biografinya: “Ahmad Hassan (1887-1962) adalah seorang tokoh fundamentalis Muslim Indonesia terkemuka yang berkiprah mulai tahun 1920-an sampai tahun 1950-an, menulis sejumlah karya dalam bidang pembelaan terhadap Islam, dan sejumlah buku-buku bacaan dasar tentang ajaran-ajaran Islam.” (Federspiel, 1996:104)

2.Para5.RightDalam tulisannya yang ekstensif tentang sumber tekstual dari pemikiran kaum modernis, Modernist Islam, 1840-1940: A Sourcebook, Charles Kurzman (ed.) mengetengahkan buku Soal-Djawab (Question and Answer) yang dikarang A. Hassan yang merepresentasikan pandangan yang ideal dalam penghujahan dan penginterpretasian al-Qur’an, yang dilontarkan dengan berlatarbelakangkan pandangan modernisnya yang tegar, bagi mendobrak benteng taqlid, di mana, “Ahmad Hassan held that Muslim traditionalism and the doctrine of unquestioning obedience to the old masters of religious law had allowed stagnation to stifle Islamic dynamism, and that this situation could be reversed only through open investigation of religious sources.” (Kurzman, 2002:360)

[Ahmad Hassan menghitung bahawa faham tradisionalisme Islam dan doktrin taklid – ikutan melulu dan tanpa soal terhadap pemuka mazhab – telah mengizinkan kebekuan untuk mengikat kedinamikan Islam, dan situasi ini dapat diterbalikkan hanya melalui penelitian yang bebas terhadap sumber-sumber agama]

Tulisan ini cuba menjabarkan manhaj tafsirnya yang moden, yang diangkat daripada komentarnya yang ekstensif dan takwilnya yang meyakinkan terhadap teks, yang meraikan kefahaman kontemporer dan konteks hukum semasa dan maqasid syara’ yang universal.

 

Tafsir al-Furqan

Tafsir Qur’an al-Furqan atau (disebut oleh Hamka dalam bukunya Teguran Suci dan Jujur kepada Mufti Johor sebagai) Tafsir al-Quran Hassan Bandung ini ditulis antara tahun 1928 sehingga 1956 dan diterbitkan dalam empat edisi percetakan, sejak cetakan pertama yang muncul pada 1928, diikuti edisi kedua pada 1941 sehingga surah Maryam, cetakan selanjutnya dalam edisi ketiga pada 1953 yang dibiayai oleh pengusaha Sa‘ad Nabhan dan edisi lengkap 30 juz pada 1956. Pada 2006 ia dicetak semula oleh Pustaka Mantiq dengan kerjasama Universiti Al-Azhar Indonesia dalam satu jilid.

Perkara ini dicatatkan oleh Federspiel dalam karyanya tentang latar awal daripada penulisan tafsir al-Qur’an yang bersejarah dan berbobot ini: “Ahmad Hassan memberikan penjelasan yang lebih mendetail tentang bagaimana proses penulisan sebuah tafsir yang lengkap. Dia mengemukakan bahwa dia telah menerbitkan juz 1 pada tahun 1928, dan menjelang tahun 1940 telah menyelesaikan terjemahannya sampai surah Maryam, yakni sekitar setengahnya”. (Federspiel, 1996:39)

3.Para11Tafsir ini diterbitkan atas desakan anggota-anggota Persis (Persatuan Islam) yang membutuhkannya sebagai pembacaan dasar yang dapat memberi pemahaman tentang idealisme perjuangan dan usaha pembaharuan yang digerakkan. Ia menjadi rujukan yang substantif dan teks wajib dalam lingkungan Persis dalam perkembangan tahun-tahun awal gerakan. Tafsirannya menggarap idea keagamaan yang mendasar “yang memberikan informasi mengenai konsep-konsep dasar tentang keyakinan dan praktik-praktik yang ditemukan dalam al-Qur’an” (Federspiel, 1996:131).
Tafsir al-Qur’an ini menzahirkan fikrah dan idealisme pembaharuan yang signifikan yang meraikan manhaj tafsir al-adabi al-ijtima‘i (etika sosial) yang diketengahkan dalam Tafsir al-Manar dan menggariskan kefahaman fiqh dan syari’ah yang meluas yang diperlukan dalam nuansa pembaharuan dan konteks pemodenan Islam.

 

Kerangka Tafsir

Dalam pendahuluannya, A. Hassan telah memberikan garis kasar yang dipakai dalam penyampaiannya. Hal ini dikemukakan dalam pendahuluannya yang terdiri daripada 34 fasal, yang menghuraikan tentang latar penulisan tafsirnya, dan kefahaman yang berkait dengan sejarah al-Qur’an, kaedah penterjemahan ayat dalam tafsir, dan istilah-istilah yang digunapakai dengan ilmu tafsir. Ia turut memberikan latar ringkas tentang mazhab tafsir yang dipegangnya yang melakarkan manhaj ijmali (umum) atau tarjamah tafsiriyah (tarjamah maknawi) dan menegakkan faham ijtihad yang kritis. Tema dan maudu’ ini diuraikan dalam catatan kakinya, di mana “catatan kaki ditemukan dalam ketiga teks (bagi) menjelaskan kata-kata, kalimat tertentu, (dan) mengungkap kembali teks (untuk) lebih memperjelas maksudnya” (Federspiel, 1996:132)

Manhaj ini digunapakai dalam kebanyakan tafsir dari generasi kedua yang memberi kefahaman tafsir yang ringkas dan latar yang jelas tentang manhaj dan pemikirannya, seperti disorot oleh Federspiel: “Ada dua karya yang cukup representatif untuk mewakili tafsir-tafsir generasi kedua, yaitu karya Ahmad Hassan yang berjudul al-Furqan, karya Hamidy yang berjudul Tafsir al-Quran, dan karya Mahmud Yunus yang berjudul Tafsir al-Qur’anul Karim (Federspiel, Popular Indonesian Literature of the Qur’an,1996:129)

Garis-garis besar kandungan al-Qur’an ditemui dalam tafsir Hamidy dan Mahmud Yunus yang turut menguraikan poin-poin inti dalam setiap surat, manakala garapan tentang kalimat-kalimat tertentu dalam al-Qur’an dan penakrifan dan definisinya dijabarkan oleh A. Hassan dalam bahagian pendahuluan tafsirnya, seperti digariskan dalam catatan ringkasnya tentang kefahaman mukjizat: “Mukjizat adalah kejadian-kejadian yang luar biasa yang menunjukkan kebenaran…seorang nabi. Mukjizat tidak terjadi berdasarkan kehendak seorang nabi, melainkan dengan izin Allah. Perhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi kepada Nabi Isa, Musa, Ibrahim, dan yang lainnya. Karena manusia diajari oleh para nabi berbagai macam pengetahuan, maka Allah memberikan berbagai macam mukjizat.” (Hassan, Al-Furqān: Tafsir Qur’an, xxi)

Secara umumnya Tafsir ini dirangka bagi memenuhi keperluan keilmuan asas umat Islam di Indonesia. Ia melakarkan manhaj tafsir al-ra’y (aqli) dan mempelopori aliran moden yang dikembangkan oleh Sayid Jamal al-Din al-Afghani, Muhammad Abduh dan Muhammad Rashid Rida dan mempertahankan mazhab rasionalisme dan humanisme Islamnya.

Tafsir ini menampilkan terjemahan teks yang lengkap, yang memaknai sejarah penting dalam perkembangan cara penerjemahan al-Qur’an di Indonesia. Ia ditampilkan secara sistematik, dengan penafsiran ringkas dan penguraian teks yang akurat yang dirumuskan dan digarap dengan tuntas dalam catatan kaki, di mana: “penterjemahan lengkap ini, yang muncul pada pertengahan 1960-an, biasanya memiliki beberapa catatan, catatan kaki, terjemahan kata per kata, dan, kadang-kadang disertai dengan suatu indeks yang sederhana.” (Federspiel, 1996:129)

Terjemahan teks al-Qur’an dikemukakan sebelah menyebelah dengan teks Arab, di mana “tafsir-tafsir generasi kedua memberikan terjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia yang akurat, bersamaan dengan keakuratan teks-teks Arabnya bertujuan untuk menyediakan pengertian kepada orang-orang yang beriman.” (Federspiel, 1996:137)

Hasil evaluasinya tentang Tafsir A. Hassan dan kekuatannya dari segi paparannya tentang ikhtisar nilai-nilai agama, dan perbandingan nilai-nilai agama dengan nilai-nilai lain, Federspiel mengkategorikannya di tahap sedang, yang berhasil menggarap fikrah utama tafsir dan membahaskan tema-temanya yang mendasar, di mana “seluruh materi telah disajikan secara akurat, dan secara teknis materi tersebut disajikan dengan benar, disusun dengan penuh hati-hati, dan dikemas dengan baik” (Federspiel, 1996:110)

Pembaharuan penting yang lain yang diusahakan dalam tafsir ini adalah dalam transliterasi huruf yang dirangka dalam karyanya ini, di mana: “Ahmad Hassan telah merumuskan sistem transliterasi untuk memperkirakan pelafalan bahasa Arab ke dalam (tulisan) bahasa Indonesia yang membantu dalam penterjemahan al-Quran.” (Federspiel, 1996: 40)

4.Para20-aIklim yang mencabar di bawah tindasan penjajah dan tekanan politik yang mengekang kebebasan turut mempengaruhi corak penulisannya. Perjuangan yang getir yang digelutinya ini diungkapkan oleh Djamal Tukimin, dalam pengantarnya kepada buku Hamka, Teguran Suci dan Jujur kepada Mufti Johor yang merakamkan pengalaman pentafsir dan keperitannya bergelut dengan perjuangan menuntut kemerdekaan Indonesia: “tahun-tahun 1950-an adalah jangka waktu yang hebat dan kronik dihadapi dalam gerakan-gerakan pemurnian ajaran Islam yang dimotori oleh para ulama’ Salafi atau yang sering dikenali sebagai Kaum Muda ini. Antara tokoh yang menonjol ialah Ustaz Hassan Ahmad atau juga dikenali sebagai Ustaz Hassan Bandung.” (h. 4)

 

Polemik

Mengi‘tiqadkan sesuatu dengan tidak ada keterangan dari agama itu ialah i‘tiqad bid‘ah” [A. Hassan, Soal-Jawab tentang Berbagai Masalah Agama – h. 371-4] 

Pentafsirannya yang menongkah arus dan kontroversil ini turut memancing kritikan dan perbantahan yang keras daripada kaum konservatif dan ulama’ tradisional, seperti yang disiarkan dalam akhbar Semenanjung tanggal 5 Mei 1958, yang menyerang ajaran dan fatwanya yang dikatakan membawa aliran Darwin dan Freud.

Dalam bukunya Teguran Suci dan Jujur kepada Mufti Johor, Hamka menyingkap polemik dan ketegangan yang ditimbulkan daripada fitnah Tuan Sayyid Alwi bin Tahir al-Haddad (1884-1962) di mana “Beliau telah menyebut satu berita yang disiarkan oleh “Semenanjung” pada 5 Mei tahun ini yang memberitakan hal sebuah kitab Kaum Muda yang bernama “Soal-Jawab” dan Tafsir al-Qur’an Hassan Bandung. Kitab tersebut menyatakan sucinya daging babi dan tafsirnya, Tafsir Qur’an Hassan Bandung adalah mengikut mazhab (teori-pengarang) Darwin dan Freud.” (h. 14).

Perbenturan pendapat yang tercetus diantaranya dengan Mufti Johor ketika itu, telah membawa keributan kerana telah mengkafirkan orang-orang Islam yang ingkar akan kenajisan daging babi. Perkara ini ditangkis oleh Hamka dalam bukunya Teguran Suci yang menjelaskan bahawa perkara khilafiyah itu masih dalam ruang lingkup ijtihad dan bukan tiang prinsip dan aqidah yang tidak boleh dipertikaikan, dan serangan fitnah yang jahat itu hanya merosakkan dan tidak memberikan penyelesaian.

Apa yang dihebohkan sekarang? Misalnya daging babi tiada najis disentuh dan haram dimakan atau daging biawak halal dimakan. Dahulu dari kita pun telah ada ulama’ ikutan kita berfahaman sedemikian. Kita sudah sama-sama membaca yang begitu di dalam kitab-kitab mereka, mengapa lekas sekali menuduh kafir orang yang berkata demikian di zaman sekarang. Tuan tidak usah mengikut fahaman itu, kerana kita tetap bersatu dalam rukun yang 11, berfikir adalah tanda hidup, berlain-lainan pendapat adalah alamat ada kemajuan pada diri kita masing-masing.”
[Teguran Suci, h. 43]

5.Para26.RightDalam tulisannya Hamka membela kebenaran A. Hassan dan membantah kebohongan yang disebarkan Tuan Mufti dan kewenangan Kaum Tua Sumatera Barat ketika itu (1923) yang menuduh Kaum Muda muktazilah, kaum-muda khawarij, dan lain-lain.” (Teguran Suci, h. 37)

Dalam bukunya itu dicatatkan: “Pada saya ada tafsir ‘Al-Furqan’ Almarhum Ahmad Hassan Bandung itu, tebalnya 1256 halaman. Tidak ada satu kalimat pun terdapat di sana bahawa Almarhum Hassan Bandung mengikut teori Darwin dan Freud. Sebagaimana diketahui bahawa teori Darwin adalah mengatakan asal usul manusia adalah daripada kera, saya balik tafsir itu dari awal sampai akhir, terutama dalam hal Adam sebagai asal-usul manusia. Al-marhum Hassan Bandung tidaklah menganut teori Darwin. Dipersilakan pembaca membaca tafsir itu dengan teliti supaya nyata bagaimana fitnah dan bohong yang disebarkan oleh Mufti.” (h. 87).

 

Manhaj dan Pemikiran Tafsir

“Beberapa karya lain seperti yang disusun oleh A. Hassan, [Mahmud] Yunus dan [Bachtiar] Surin, memperlihatkan kepiawaian teknis yang luar biasa dan memberikan sumbangan penting terhadap khazanah keilmuan yang sedang agak lesu menjelang kehadiran karya-karya tersebut.” (Federspiel, 1996:111)

Tafsir al-Furqan ini membawa idealisme pemikiran moden yang menzahirkan aspirasi pembaharuan yang signifikan – yang berpegang pada dasar al-ra’y (aqli) dan meraikan perbezaan pendapat (fiqh al-ikhtilaf) – idealisme yang signifikan yang dipertahankan dalam tradisi Islam, seperti yang dirumuskan oleh Muhammad Asad:

It doesn’t matter if you agree or disagree with my interpretations, even the classical Qur’an commentators disagreed on many details. Disagreement deepens our understanding of the Quran.” [Muhammad Asad, A Road To Mecca]

(Ia tidak menjadi persoalan sama ada anda bersetuju atau tidak dengan tafsiran saya, malah para pentafsir klasik juga berbeza pandangan [ikhtilaf] dalam banyak perincian. Perbezaan memperdalam pemahaman kita tentang al-Qur’an)

Dan pandangan yang dilontarkan Hamka:

6.Para32-aBerfikir adalah tanda hidup, berlain-lainan pendapat adalah alamat ada kemajuan pada diri kita masing-masing.” [Teguran Suci, h. 43]

Dalam perbincangan tentang hukum, A. Hassan merumuskan keterangan fuqaha’ dan mufassirin dan dalil-dalil syarak yang muktabar yang dapat memperkuat hujah dan pengaruh fiqh dan ijtihad yang diperjuangkannya:

Membaca satu kitab bahasa Arab dengan tidak tahu artinya itu dijelekkan oleh akal dan dilarang oleh agama, karena kedatangan agama kita ialah untuk menjadikan kita pandai, bukan untuk menjadikan kita lebih bodoh.”
[Soal-Jawab tentang Berbagai Masalah Agama – h. 371-4]

Hujah ini diperkukuh dalam karyanya yang lain yang mengisbatkan kekuatan ijtihad dan upaya tarjih dan istinbat dalam memahami nas, dengan komentar dan penghujahan hukum yang jelas yang memangkin pengembangan tradisi intelek dan harakat pemikiran di nusantara:

Bermazhab sama maknanya dan maksudnya dengan bertaqlid. Kedua-dua itu dilarang oleh Allah, Rasul, Sahabat bahkan oleh Imam-Imam yang ditaqlidi.”
[Risalah al-Mazhab – h. 12]

Keluar dari mazhab itu bukan haram, tetapi wajib. Masuk sesuatu mazhab itu bukan wajib tapi haram.”
[Risalah al-Mazhab – h. 23]

Perbantahan dan pentarjihan fiqh yang kental dan mendalam yang dibawa dalam rangka tafsir yang moden ini telah mengangkat pengaruh mazhab tafsirnya yang luar biasa dan mengilhamkan pembaharuan dan pemekaran ide yang meluas dalam tradisi tafsir di nusantara.

 

Kesimpulan

Tulisan ini telah membincangkan manhaj dan pandangan tafsir Ustaz A. Hassan dan idea pembaharuan yang dibawa dalam karya tafsirnya. Walaupun tafsirannya ini lebih berupa nota kaki yang ringkas, namun kiranya mencukupi sebagai gambaran awal tentang fikrah pembaharuan yang cuba diketengahkan daripada pembentangannya yang jitu yang telah merumuskan dasar-dasar hukum dan syari’ah yang tuntas dan membahaskan nas dan idealisme dari ayat. Usaha dan inisiatif yang dikerahkan dalam penghasilan kitab tafsir al-Furqan (yang dicetaknya sendiri) yang ditunjangi aliran manhaj al-ra’y yang progresif ini haruslah diangkat dan disebarluaskan bagi menayangkan sisi reformismenya dan teologi pemikiran moden yang konstruktif yang dijabarkan dalam karya tafsir dan tulisan-tulisannya yang lain.


Bibliografi

Ahmad Hassan (1931). Soal-Djawab tentang Berbagai Masalah Agama. Bandung, Indonesia: Penerbit CV. Diponegoro.

Ahmad Hassan (1941). Islam dan Kebangsaan. Bangil: Persatuan Islam.

Ahmad Hassan (1956). Al-Furqan: Tafsir Quran. Jakarta: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Hassan (1962). Tafsir Qur’an Al-Furqan. Jakarta: Tintamas.

Akhmad Minhadji (1997). Ahmad Hassan and Islamic Legal Reform in Indonesia (1887-1958). Disertasi PhD, Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal.

Ahmad Nabil b. Amir (Julai 4, 2015). “Hassan Bandung: Fikrah dan Perjuangannya” Diakses dari situs http://irfront.net/post/articles/hassan-bandung-fikrah-dan-perjuangannya/

Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi (1966). Tafsir al-Bayan. 2 Jilid. Bandung: Al-Maarif.

Charles Kurzman, ed. (2002). Modernist Islam, 1840-1940: A Sourcebook: Oxford University Press

Hamka (2009). Teguran Suci dan Jujur Terhadap Mufti Johor. Shah Alam: Pustaka Dini.

Howard M. Federspiel (1966). The Persatuan Islam (Islamic Union). Tesis PhD, Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal.

Howard M. Federspiel (1971). The Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia. Ithaca, N.Y.: Cornell University Modern Indonesia Project.

Howard M. Federspiel (1996). Kajian al-Qur’an di Indonesia dari Mahmud Yunus hingga Quraish Shihab. Diterjemahkan oleh drs. Tajul Arifin dari Popular Indonesian Literature of the Qur’an, Cornell Modern Indonesia Project, 1994. Bandung: Penerbit Mizan.

Howard M. Federspiel (2001). Islam and Ideology in the Emerging Indonesian State: The Persatuan Islam (PERSIS), 1923 to 1957. Leiden: Boston, Koln: Brill.

Nik Yusri Musa (2006). “Pemikiran A. Hassan Bandung: Nasikh Mansukh, al-Am dan al-Khas dalam al-Quran”, Jurnal al-Bayan, bil 4, 121-142.

Nik Yusri Musa (2006). “Polemik Dato’ Sayed Alwi bin Tahir al-Haddad dan A. Hassan Bandung: Gambaran Pemikiran Fiqh Nusantara”, Prosiding Nadwah Ulama Nusantara III, anjuran Fakulti Pengajian Islam UKM DAN Majlis Agama Islam Pulau Pinang, 15-17 April, 537-543.


Dr Ahmad Nabil Amir adalah Ketua, Abduh Study Group, Islamic Renaissance Front. Tulisan ini dikemukakan sempena Seminar Pemikiran Reformis – Siri VI: A Hassan Bandung, yang akan diselenggarakan oleh Islamic Renaissance Front pada 21 Januari 2017 di Royal Selangor Golf Club (RSGC), Jalan Tun Razak Kuala Lumpur.

 

irf-tagline-A.Hassan