Muhammad Asad dan Islam

September 21, 2016 by Ahmad Nabil Amir


Ahmad Nabil Amir || 21 Sept 2016

1.Para1“For it so happened, Mansur, that the understanding of how Muslims lived brought me daily closer to a better understanding of Islam. Islam was always uppermost in my mind”

[Muhammad Asad, The Road to Mecca, 214] 

[Kerana demikianlah, Mansur, bahawa pemahaman tentang bagaimana umat Islam hidup membawa aku tiap hari makin hampir kepada pemahaman yang lebih baik tentang Islam. Islam sentiasa teratas dalam pemikiranku]

Dalam pencariannya terhadap Islam, Muhammad Asad (1900-1992) telah meraihnya dari perjuangan yang keras yang diusahakan melalui pembacaan yang kritis tentang Islam dan teks-teksnya; perbincangan dan pertukaran idea dengan para pemikir agama, ulama dan mutakallimun; penjelajahannya ke Timur Tengah, Afrika dan Asia; dan pengalamannya di tengah kehidupan Badwi padang pasir mengenali akar budaya dan keaslian bahasa Arab yang diwarisinya.

Kesedaran yang jelas tentang semangat Islam ditemui dari kehidupan dan peradaban Muslim yang mempertahankan akhlak dan budaya dan nilai spiritualnya. Hal ini membawanya kepada perjuangan untuk memperbaharui dan menghidupkan semula nilai-nilai dan pemikiran Islam yang ideal dan mengembalikan umat kepada agama (ad-din) yang sebenar dan merealisasikan kekuatan maknawinya, yang difahami secara sedar, dan memperjuangkan aspirasi Islam yang digali dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Artikel ini berusaha mengkaji pemikiran dan idealisme Islam yang dicanangkan oleh Muhammad Asad dan cuba mengupas perspektif Asad tentang Islam, yang digarap dari karya-karyanya seperti The Spirit of Islam, Islam at the Crossroads, My Discovery of Islam, Home-Coming of the Heart, Meditation, Sahih al-Bukhari: The Early Years of Islam, The Message of the Qur’an dan lain-lain lagi.

 

Perjalanan Awal

2.Para5.RightKisah yang intens dan dramatis tentang perjalanan awalnya mengenal Islam dirakamkan Asad dalam autobiografinya The Road to Mecca yang disifatkan oleh Times Literary Supplement sebagai sebuah “naratif yang kuat lagi indah” (a narrative of great power and beauty).

Ia menggarap pengalaman dan pengembaraannya yang intens dan luar biasa mengharungi pergunungan tinggi Afghanistan, Turki, Kurdistan, Iran, Syria, Iraq, Mesir, Jerusalem, Uzbekistan, Pakistan dan Arab Saudi dan pemerhatiannya tentang kehidupan masyarakat Islam yang dihayatinya dengan penuh minat. Perjalanan yang mencabar ini menceritakan tentang babak-babak kehidupannya yang signifikan di mana beliau terbenam dalam penelitian tentang ajaran dan semangat agama yang membawanya kepada Islam: “and with every day of those two years in Iran and Afghanistan the certainty grew in me that I was approaching some final answer.” (dan dalam setiap hari sepanjang dua tahun di Iran dan Afghanistan itu kepastian tumbuh dalam diriku bahawa aku sedang menghampiri sebagian jawapan yang muktamad) [Muhammad Asad, The Road to Mecca, 214]

Ditulis dalam rangka awal kehidupannya di Eropah sampai merentas Timur Tengah dan semenanjung tanah Arab dan mengembara ke India (1900-1932), buku ini menyingkap sejarah yang kritis dalam perjalanan kareernya sebagai reporter luar bagi akhbar Frankfurter Zeitung untuk menyelidik kebudayaan masyarakat di Timur Tengah, dan penemuannya dengan kehidupan Islam dan kekuatan spiritualnya yang siginifikan yang bertembung dengan nilai-nilai kehidupan Barat. Hal ini seperti yang disingkap dalam catatannya:

“perhatianku terhadap bangsa-bangsa yang aku kunjungi itu mula-mula adalah sebagai orang luar saja. Aku melihat susunan masyarakat dan pandangan hidup yang pada dasarnya berbeda dengan susunan masyarakat dan pandangan hidup orang-orang Eropah, dan sejak pandangan pertama, dalam hatiku telah tumbuh rasa simpati terhadap pandangan hidup yang tenang, yang boleh aku katakan lebih bersifat kemanusiaan jika dibanding dengan cara hidup Eropah yang serba terburu-buru dan mekanistik. Rasa simpati ini secara perlahan-lahan telah menyebabkan timbulnya keinginanku untuk menyelidiki sebab adanya perbedaan itu, dan aku menjadi tertarik dengan ajaran-ajaran keagamaan orang Islam. Dengan persoalan ini, aku belum merasa tertarik cukup kuat untuk memeluk agama Islam, akan tetapi telah cukup membuka mataku terhadap suatu pemandangan baru mengenai masyarakat kemanusiaan yang progresif dan teratur, dengan mengandung hanya sedikit pertentangan, tapi dengan rasa persaudaraan yang sangat besar dan sungguh-sungguh, walaupun kenyataan hidup orang-orang Islam sekarang masih jauh berbeda dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan oleh ajaran-ajaran Islam.”

[Muhammad Asad, The Road to Mecca]

 

Memeluk Islam

My story is simply the story of a European’s discovery of Islam and of his integration within the Muslim community.” [The Road to Mecca, 1]

“Kisah diriku cuma kisah penemuan seorang bangsa Eropah tentang Islam dan perihal integrasinya dalam masyarakat Islam”

[The Road to Mecca, 1]

 

3.Para11Dari pembacaannya terhadap Perjanjian Lama atau Tanakh dan teks dan komentarnya seperti Talmud, Mishna dan Gemara serta tafsiran Bible dan Targum dan perbandingannnya dengan teks al-Qur’an dan Hadith, dan daripada tulisan-tulisan pemikir Islam moden, dan daripada perbincangan dengan alim ulama, pemimpin dan sarjana besar di zamannya, dan penjelajahannya di dunia Islam mengkaji falsafah, budaya, sejarah dan pemikirannya, telah membawanya kepada kefahaman yang mendalam tentang pandangan dunia Islam dan akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam pada tahun 1926.

Pengalaman dan jalan yang menghantarnya kepada Islam ini dilakarkan dengan menarik dalam bukunya, The Road to Mecca:

And I begin to understand that my life could not have taken a different course. For when I ask myself, ‘what is the sum total of my life?’ Something in me seems to answer, ‘you have set out to exchange one world for another – to gain a new world for yourself in exchange for an old one which you never really possessed.’ And I know with startling clarity that such an undertaking might indeed take an entire lifetime…

[Dan aku mula memahami bahawa kehidupanku tidak mungkin mengambil arah yang lain. Kerana ketika daku menyoal diriku sendiri, ‘apakah rumusan keseluruhan dari hidupku ini?’ Sesuatu dalam diriku kelihatan menjawab, ‘engkau telah rencanakan untuk menukar sebuah dunia kepada yang lain – untuk memperoleh dunia yang baru bagi dirimu sebagai pertukaran dengan yang lama yang engkau tidak pernah sebenarnya miliki.’ Dan aku tahu dengan kejelasan yang mendadak bahawa usaha yang seperti itu mungkin sesungguhnya mengambil sepanjang hayat…]

Ketinggian ajaran Islam dan kekuatan tradisi keulamaannya dan keseimbangan pandangan hidupnya yang menariknya kepada kebenaran tauhid turut digarap dengan mendetil dalam tulisannya, dengan menyinggung kepada pernyataan dalam Perjanjian Lama:

“Demikianlah Islam telah masuk ke dalam lubuk hatiku, laksana seorang pencuri yang memasuki rumah di tengah malam. Hanya saja Islam telah masuk untuk terus menetap selama-lamanya, tidak seperti seorang pencuri yang masuk rumah untuk kemudian dengan tergesa-gesa keluar lagi. Sejak itu, aku telah bersungguh-sungguh mempelajari apa yang dapat aku pelajari tentang Islam. Aku telah mempelajari al-Qur’an dan Sunnah ar-Rasul. Aku pelajari bahasa agama Islam berikut sejarahnya, dan aku pelajari sebahagian besar buku-buku dan tulisan-tulisan mengenai ajaran Islam dan juga buku-buku dan tulisan-tulisan yang menentangnya. Semua itu aku lakukan dalam waktu yang lebih dari lima tahun di Hejaz dan Najed, dan lebih banyak lagi di Madinah, sehingga aku bisa mengalami sesuatu dalam lingkungan yang orisinal, di mana agama ini dikembangkan untuk pertama kalinya oleh Nabi yang berbangsa Arab. Sedangkan Hejaz merupakan titik pertemuan kaum Muslimin dari berbagai negara, di mana aku dapat membandingkan beberapa pandangan keagamaan dan kemasyarakatan yang berbeda-beda yang menguasai dunia Islam sekarang.”

[The Road to Mecca]

 

Perspektif tentang Islam

Islam appears to me like a perfect work of architecture. All its parts are harmoniously conceived to complement and support each other; nothing is superfluous and nothing lacking; and the result is a structure of absolute balance and solid composure. ” [Muhammad Asad]

“Dalam pandanganku, Islam terlihat seperti sebuah hasil arsitektur yang sempurna. Semua elemen di dalamnya secara harmonis saling melengkapi dan mendukung; tidak ada yang berlebihan dan tidak ada yang kurang; hasilnya adalah sebuah struktur dengan keseimbangan sempurna dan komposisi yang kuat.” [Muhammad Asad]

4.Para19Muhammad Asad telah melakarkan perspektif yang jelas tentang Islam dalam penulisannya yang menggarap pandangan dunia (weltanschauung) Islam yang komprehensif. Kerangka pemikiran ini memanifestasikan kefahamannya yang tuntas tentang kebudayaan Barat dan kekuatan maknawinya dan perbandingannya dengan pandangan dunia Islam yang integral yang digariskan dengan menyeluruh merangkumi aspek falsafah, sejarah, moral, akhlak, politik, budaya, dan sosialnya.

Pemikiran yang ideal yang menggariskan kefahaman tentang nilai-nilai Islam yang progresif ini mencakupi aspek ketuhanan, pendidikan, hukum, fiqh, syari’at, mazhab, syaksiyah, dan akhlak. Doktrin Islam yang syumul dan penghayatan moral yang ditekankan dalam ajarannya ini membentangkan kefahaman tentang falsafah dan pandangan hidup yang seimbang.

We regard Islam as superior to all other religious systems because it embraces life in its totality. It takes World and Hereafter, soul and body, individual and society, equally into consideration. It takes into consideration not only the lofty possibilities of the human nature, but also its inherent limitations and weaknesses. It does not impose the impossible upon us, but directs us how to make the best use of our possibilities and to reach a higher plane of reality where there is no cleavage and no antagonism between Idea and Action. It is not a way among others, but the Way; and the Man who gave us this teaching is not just one guide among others, but the Guide. To follow him and all he did and ordered is to follow Islam; to discard his Sunnah is to discard the reality of Islam.”   (Muhammad Asad, Social and Cultural Realities of the Sunnah, 250)

“Kami menganggap Islam sebagai lebih unggul dari sistem-sistem agama yang lain kerana ia mendakap kehidupan secara keseluruhannya. Ia mengambil dunia dan akhirat, jiwa dan tubuh, individu dan masyarakat, dengan setara dalam perkiraan. Ia mempertimbangkan tidak hanya kemungkinan yang tinggi dari sifat manusia, tetapi juga keterbatasan dan kelemahannya yang asli. Ia tidak mengenakan yang mustahil ke atas kita, tetapi mengarahkan kita bagaimana untuk memanfaatkan dengan cara terbaik keupayaan kita dan untuk mencapai ufuk kenyataan yang lebih tinggi di mana tidak ada perbenturan dan permusuhan antara Idea dan Tindakan. Ia bukan satu jalan di antara jalan-jalan yang lain, tetapi satu-satunya Jalan, dan Lelaki yang menyampaikan kepada kita ajaran ini bukan cuma seorang pemberi petunjuk di antara pemberi-pemberi petunjuk yang lain, tetapi satu-satunya Pemberi petunjuk. Untuk mengikutnya dan semua yang dia lakukan dan perintahkan adalah untuk mengikut Islam; untuk menyingkirkan sunnahnya adalah untuk menyingkirkan kenyataan dari Islam.

[Muhammad Asad, Social and Cultural Realities of the Sunnah, 250]

 

Sumbangan kepada Islam

Antara sumbangannya yang signifikan terhadap kebangkitan Islam adalah dalam perjuangan yang dipeloporinya dalam pembaharuan (tajdid) dan reformasi (islah). Hal ini ditekankan dalam penulisannya yang melakarkan tema pembaharuan yang ekstensif bagi menggerakkan pembaharuan budaya, pemikiran dan agama dalam masyarakat. Beliau turut mencetuskan perubahan politik dengan membangunkan kerangka dan asas politik Islam dalam konstitusi dasar Pakistan yang didirikan pada tahun 1947. Hal ini dikerjakan ketika beliau mengepalai Department of Islamic Reconstruction dan menjadi wakil pemerintah ke Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu di New York, membawa cita-cita dan aspirasi rakyat Pakistan merealisasikan negara Islam dalam sejarah moden.

Perangkaan awal bagi merealisasikan negara Pakistan dan cita-cita menegakkan syari’at Islam dan usaha yang dikerahkan dalam menyusun jentera dan struktur politik yang sistematik ini merupakan hasil daripada kerja kerasnya dalam perjuangan politik yang dipeloporinya dengan dukungan pemerintah. Legasi dan sumbangan politiknya yang krusial dalam sejarah awal pembentukan Pakistan itu dihimbau dalam bahagian awal bukunya The Road to Mecca:

When Pakistan was established in 1947, I was called upon by its Government to organize and direct a Department of Islamic Reconstruction, which was to elaborate the ideological, Islamic concepts of statehood and community upon which the newly born political organization might draw.”

(Setelah Pakistan dibentuk pada tahun 1947, aku dipanggil oleh Pemerintahnya untuk menyelenggara dan mengepalai Department of Islamic Reconstruction, yang harus menghuraikan ideologi, konsep Islam tentang negara dan masyarakat atas mana organisasi politik yang baru lahir dapat berpijak) [The Road to Mecca, 2]

Beliau turut menghasilkan jurnal Arafat: A Monthly Critique of Muslim Thought (1946-1948), dan menuliskan pandangannya dalam Islamic Culture yang diterbitkan di Lahore, yang berusaha menghuraikan ruang lingkup dan implikasi yang praktikal dari Undang-Undang Islam, dengan menyuguhkan pandangan Islam yang ideal dan pragmatik, dan melakarkan dasar yang jelas tentang faham politik dan pandangan budaya dan sosial Islam yang dinamik.

Dalam mengembangkan idealisme pemikirannya tentang faham pembaharuan dan nahdah dan menegakkan dakwah Islam yang syumul, Asad turut menghasilkan karya-karya yang produktif yang mengupas tentang falsafah, kalam, politik, sosial dan pemikiran Islam. Hal ini dihasilkan dalam buku-bukunya yang mendapat pengiktirafan dan kritikan meluas seperti Islam at the Crossroads dan The Principles of State and Government in Islam.

Sumbangannya yang tak ternilai terhadap pemahaman al-Qur’an dan as-Sunnah dan dalam menggarap semangat dan idealismenya yang sebenar, ditemukan daripada dua penulisannya yang penting, Sahih al-Bukhari: The Early Years of Islam dan The Message of the Qur’an. Idea penterjemahan Sahih al-Bukhari dicetuskan oleh Iqbal ketika bertemunya di India pada tahun 1932, yang dikerjakan olehnya selama lebih 10 tahun, dan kebanyakannya diusahakan di Kashmir (1934) dan Lahore (1939). Kerangka awal terjemahan dan komentar kitab Sahih al-Bukhari ini telah dihasilkan dengan anekdot dan syarah yang komprehensif yang merupakan yang pertama dihasilkan dalam bahasa Inggeris. Hanya dua bab yang pertama yang sempat diterbitkan oleh syarikat penerbitannya sendiri di Srinagar, manakala manuskrip yang lainnya musnah ketika kekacauan kaum yang meletus selepas perang dunia kedua.

6.Para30.Right-aThe Message of the Qur’an yang diusahakan selama tujuh belas tahun menganalisis dengan mendalam karya-karya tafsir klasik dan mazhab tafsir fuqaha’, mutakallimun dan usul di zaman pertengahan. Beliau mengangkat kefahaman rasional dan saintifik dan mempertahankan idealisme dan semangat Islam yang kental dalam tafsirnya. Tafsir ini diangkat daripada kefahaman ayat yang ekstensif yang dikemukakan oleh mufassir daripada mazhab sunni, muktazili dan zahiri seperti at-Tabari, az-Zamakhshari, ar-Razi, Ibn Kathir, Abu Muslim al-Isfahani, Ibn Hazm, Muhammad Abduh, Rashid Rida, Mustafa al-Maraghi dan seumpamanya.

Dalam garapannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an, beliau membahaskan falsafah hukum, dan maqasidnya yang mendalam dengan menekankan kesannya dalam memperkukuh kefahaman tentang akhlak Islamiyah maknawiyah dan mengangkat kesedaran akliah dan ketinggian nilai ijtihad. Kekuatan tafsir dan sumbangannya dalam mencetuskan nahdah budaya dan intelek ini dijelaskan oleh Prof. Ahmad Syafii Maarif dalam tulisannya tentang Tafsir Muhammad Asad:

The Message Muhammad Asad adalah di antara langkah strategis untuk menuju kebangkitan umat secara otentik, sebuah ummatan wasathan (umat pertengahan, tidak ekstrem), seperti yang terbaca dalam Al-Baqarah: 143. Asad menerjemahkannya dengan a community of the middle way (komunitas jalan tengah)”

Dalam prolognya yang ditulis terhadap kitab tafsir ini, Gai Eaton, seorang sarjana Islam British yang terkemuka, menguraikan tentang kontribusi yang besar yang dilakarkan Asad dalam penghasilan karya ini:

“the most helpful and instructive version of the Qur’an that we have in English. This remarkable man has done what he set out to do, and it may be doubted whether his achievement will ever be surpassed.”

[versi al-Qur’an yang paling bermenafaat dan instruktif yang kita peroleh dalam bahasa Inggeris. Lelaki yang luar biasa ini telah melakukan apa yang direncanakannya untuk dilakukan, dan mungkin diragui sekali sama ada pencapaiannya akan bisa ditandingi]

7.Para35-aAspirasi perjuangan dan sumbangan yang besar kepada Islam ini telah cuba dirumuskan oleh Prof. Tariq Ramadan dalam syarahan yang disampaikannya dalam program A Tribute to Muhammad Asad yang dilangsungkan di Auditorium, Security Commission, Bukit Kiara pada 13 Disember 2009 anjuran bersama Islamic Book Trust dan Islamic Renaissance Front, dengan mengetengahkan beberapa idea dan sumbangan penting yang dikemukakan Asad dalam menggariskan manhaj dan asas yang ideal dalam memperbaharui pemikiran Islam:

the main contribution made by the late Muhammad Asad was a methodology with which to revive and reform Islamic discourse” [sumbangan utama yang dikemukakan oleh Muhammad Asad adalah metode dengan mana untuk menyegarkan dan mereformasi wacana Islam]

Dalam acara yang sama, Prof. Muhammad Kamal Hassan menjelaskan pandangan dan aspirasi Islam yang dibawa oleh Muhammad Asad dan usaha yang penting yang digarap dalam karyanya yang menggariskan pandangan dunia Islam dan perspektifnya yang meluas tentang syariat, budaya, peradaban, undang-undang, dan akhlak:

one of the greatest contributions of Muhammad Asad was his presentation of the Islamic worldview

[salah satu kontribusi terbesar Muhammad Asad adalah penyampaiannya tentang pandangan sarwa Islam].

Dalam mengupas sumbangannya sebagai mufassir, beliau mendiskusikan tafsirnya The Message of the Qur’an yang disifatkan sebagai The Yin and Yan kepada tafsir Abdullah Yusuf Ali, di mana idealisme rasional yang dibawa oleh Muhammad Asad diimbangi oleh faham spiritual yang diketengahkan oleh Abdullah Yusuf Ali.

  1. Ikram Chagtai dalam dua jilid karyanya yang komprehensif, bertajuk Europe’s Gift to Islam: Muhammad Asad menyifatkan bahawa sumbangan dan kekuatan idealisme dan usaha intelektual Muhammad Asad yang progresif belum dapat ditandingi dan dicabar:

No one has contributed more in our times to the understanding of Islam and the awakening of Muslims or worked harder to build a bridge between the East and the West than Muhammad Asad.”

[Tiada siapa yang lebih banyak menyumbang di zaman ini kepada pemahaman tentang Islam dan kebangkitan umat Islam atau bekerja lebih keras untuk membina jambatan antara Timur dan Barat daripada Muhammad Asad]

Dalam tinjauannya tentang sumbangan Muhammad Asad sebagai intelektual dan pemikir Islam pada abad ke 20, Abroo Aman Andrabi mengupas idea dan perspektif Muhammad Asad tentang isu-isu politik, falsafah dan pemikiran dan usahanya untuk mengembangkan ideologi Islam yang rasional dan demokratik. Beliau turut membandingkan tafsiran al-Qur’an yang diusahakan oleh Muhammad Asad, The Message of the Qur’an dengan karya-karya tafsir moden yang lain seperti The Meaning of the Glorious Koran oleh Marmaduke Pickthall (1875-1936) dan The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary oleh Abdullah Yusuf Ali (1872-1953) dan menzahirkan ketinggian manhaj dan keupayaan bahasa dan kedalaman analisis, ijtihad dan takwil yang diperkenalkan oleh Asad, dalam tafsirnya.

 

Kesimpulan 

8.Para42.RightDaripada perbahasan yang serba ringkas ini, dapatlah dirumuskan pandangan asas Muhammad Asad tentang Islam. Idealisme pembaharuan Islam yang diketengahkannya menuntut perubahan yang ekstensif dan keperluan mempertahankan nilai-nilai moral yang kritikal bagi kebangkitan Islam. Aspirasi ini terus dipugar dan diperjuangkan dalam penulisan dan kehidupannya. Idea dan fikrahnya banyak diwarnai oleh pemikiran kaum modernis seperti Jamal al-Din al-Afghani, Muhammad Abduh dan Muhammad Rashid Rida, yang kental memperjuangkan kemaslahatan dan pemberdayaan umat. Usaha haruslah digembleng untuk mengembangkan idea dan pemikirannya dan merealisasikan gagasan-gagasan politik, budaya dan sosialnya dalam masyarakat. Hal ini penting untuk membawa kefahaman dan kesedaran Islam yang lebih mengakar dan meluas dan memperjuangkan aspirasi Islam yang progresif yang digagaskanya di dunia Islam.


Dr Ahmad Nabil Amir adalah Ketua Umum, Abduh Study Group, Islamic Renaissance Front dan seorang Sarjana Kedoktoran dalam bidang Usuluddin daripada Universiti Malaya.


 

Bibliografi 

Ahmad Syafii Maarif, Muhammad Asad tentang Alquran. 2011. Diakses dari situs : www.al-ahkam.net/home/content/muhammad-asad-tentang-al-quran/

Ahmad Syafii Maarif, Kata Pengantar Risalah al-Qur’an: Muhammad Asad, Risalah Al-Qur’an, dan Dunia Melayu. Disember 24, 2014. Diakses dari situs : http://irfront.net/post/opinion-features/kata-pengantar-risalah-al-quran-muhammad-asad-risalah-al-quran-dan-dunia-melayu/

Abroo Aman Andrabi, Muhammad Asad: His Contribution to Islamic Learning. New Delhi: Goodword Books, 2007.

Muhammad Asad, The Principles of State and Government in Islam. Berkeley and Los Angeles, California: University of California Press, 1961.

Muhammad Asad, The Message of the Qur’an. Dar al-Andalus: Gibraltar, 1980.

Muhammad Asad, The Road to Mecca. (4th rev. ed.) Louisville, KY: Fons Vitae, 1980.

Muhammad Asad, This Law of Ours and Other Essays. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 1987.

Muhammad Asad, Islam at the Crossroads. Kuala Lumpur: Other Press, 1999.

Muhammad Asad, The Road to Mecca: Perjalanan Spiritual Seorang Pencari Kebenaran. Fuad Hashem (pent.). Jakarta: Pustaka Mizan, 2002.

Muhammad Asad, “Social and Cultural Realities of the Sunnah”, dalam P.K. Koya (ed.), Hadith and Sunnah: Ideals and Realities, 233-250. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2003.

Ikram Chagtai, Europe’s Gift to Islam: Muhammad Asad. New Delhi: Adam Publishers and Distributors, 2007.